Pabrik Mobil RI Hitung Dampak Lonjakan Harga Minyak Efek Perang Iran

Pabrik Mobil RI Hitung Dampak Lonjakan Harga Minyak Efek Perang Iran

Jakarta – Kenaikan harga minyak bumi global yang mencapai di atas US$ 100 per barel mulai memberikan dampak signifikan pada industri otomotif dalam negeri. Fluktuasi ini memengaruhi biaya produksi, yang kini mengalami tekanan akibat kenaikan bahan baku berbasis petrokimia. Permintaan pasar masih belum pulih, sehingga lonjakan biaya bisa memperparah situasi.

Industri Menganalisis Dampak Biaya Produksi

Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa setiap pelaku industri memiliki struktur biaya yang berbeda, sehingga dampak kenaikan harga bahan baku tidak bisa disamarkan. “Teman-teman juga lagi pada ngitung semuanya. Saya belum punya bayangan sama sekali. Karena masing-masing pasti akan beda satu sama lain,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (6/4/2026).

“Pasti ada beberapa sumber yang lain. Tapi secara umum pelaku industri otomotif pasti punya alternatif. Cuma seberapa efektif alternatif itu bisa memenuhi kebutuhan, karena nanti kalaupun ada alternatif dari tempat lain, semuanya juga akan ikut ke sana,” kata Kukuh.

Dalam upaya menjaga stabilitas produksi, para pelaku industri mulai mencari sumber bahan baku yang lebih murah. Namun, langkah ini belum cukup efektif sebagai solusi jangka pendek. Kukuh menambahkan bahwa material petrokimia memiliki peran penting dalam berbagai komponen kendaraan, mulai dari bagian utama hingga komponen kecil.

Kenaikan Energi dan Keterbatasan Pasokan

“Ya pastikan bahan plastiknya kan. Material dashboard, kursi, banyak sekali. Lampu, semuanya sudah plastik semua,” jelas Kukuh. Kenaikan harga energi juga ikut memperberat tekanan biaya produksi. Kombinasi dua faktor ini berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan di pasar.

Kukuh menilai, jika semua pabrikan beralih ke sumber pasokan yang sama, maka titik tersebut bisa menjadi sumber tekanan baru. “Kalau semua pindah ke sumber alternatif yang sama, ya nanti akan terjadi penumpukan permintaan di sana,” ujarnya. Ia berharap kondisi ini tidak berlangsung terlalu lama agar industri bisa kembali stabil.

“Ya mudah-mudahan ini cepat berlalu. Karena nggak gampang untuk memindahkan ke tempat lain kalaupun ada,” sebut Kukuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *