Key Discussion: Israel Serang Petrokimia Iran Usai Ancaman Trump soal Buka Selat Hormuz
Israel Serang Petrokimia Iran Usai Ancaman Trump Soal Buka Selat Hormuz
Senin (6/4/2026), Israel melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia Iran di Assaluyeh, wilayah pesisir Teluk Persia. Menurut laporan AFP, insiden ini terjadi setelah Iran menolak ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menuntut pembukaan Selat Hormuz sebagai syarat untuk menghindari serangan terhadap infrastruktur sipil.
Fasilitas yang diserang adalah salah satu pabrik pengolahan minyak terbesar Iran. Media lokal mengungkapkan adanya beberapa ledakan di lokasi tersebut. Menurut perusahaan Petrokimia Nasional Iran, kerusakan yang terjadi tergolong ringan, meski pihaknya sedang mengevaluasi dampaknya. Sejumlah fasilitas lain di Shiraz juga dilaporkan terkena serangan Israel.
Minister Pertahanan Israel, Israel Katz, mengklaim bahwa kompleks tersebut menyumbang sekitar 50 persen dari produksi petrokimia Iran, yang bernilai “puluhan miliar dolar.” Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengingatkan bahaya serangan lebih lanjut terhadap pembangkit nuklir Bushehr Iran.
Trump Tegaskan Ancaman
Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah meningkatkan harga minyak dan gas secara signifikan. Dalam sebuah unggahan media sosial, Trump mengecam Iran dengan kata-kata keras, menantang mereka untuk “buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka.” Ancaman ini diungkapkan pada hari Minggu (5/4), dan Trump memberi waktu hingga 00.00 waktu setempat pada hari Rabu (8/4) untuk memenuhi syarat.
“Gencatan senjata 45 hari adalah salah satu dari banyak ide, dan Presiden (Trump) belum menyetujuinya,” kata seorang pejabat Gedung Putih kepada AFP, menjelang konferensi pers Trump pada pukul 17.00 waktu setempat.
Serangan Israel juga menyebabkan kematian komandan senior Garda Revolusi Iran. Iran membalas dengan rudal dan drone, memperingatkan bahwa akan ada serangan lebih besar jika Trump menindaklanjuti ancamannya.
Juru bicara militer Iran menyatakan bahwa negara itu akan terus berperang “selama para pemimpin politik menganggapnya tepat.” Dalam konteks ini, Trump belum menyetujui draf kesepakatan untuk mengakhiri konflik, meski ada laporan tentang usulan gencatan senjata.
Blokade Selat Hormuz memaksa negara-negara global untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dampak ekonomi. Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali ke status semula, terutama bagi AS dan Israel.”