New Policy: Top! Raksasa Nuklir Muslim ‘Turun Gunung’ Damaikan AS-Iran, Ajukan Ini

Pakistani Diplomats Propose Two-Phase Plan to Mediate US-Israel-Iran Conflict and Reopen Hormuz Strait

Di Jakarta, Pakistan secara resmi mengusulkan kerangka kerja dua tahap untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi distribusi energi global. Dikutip dari laporan Al Jazeera pada Senin, 6 April 2026, proposal ini sedang diproses secara intens oleh pihak yang terlibat. Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengakui adanya inisiatif diplomatik dari Pakistan, yang telah menyebarkan rencana tersebut kepada AS dan Iran. Meski demikian, ia menambahkan bahwa Iran tetap fokus pada keamanan nasionalnya, terutama menghadapi serangan terbaru dari militer AS dan Israel.

Key Contacts and Initial Agreements

Menurut sumber, Panglima Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, melakukan komunikasi sepanjang malam dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Sumber menyatakan bahwa elemen-elemen utama harus sepakat hari ini, dengan pembuatan nota kesepahaman awal melalui Pakistan sebagai satu-satunya saluran komunikasi. Rencana ini mengusulkan gencatan senjata segera diberlakukan, diikuti dengan pembukaan Selat Hormuz, sementara jangka waktu 15 hingga 20 hari diperlukan untuk menyelesaikan resolusi lebih luas.

Iran’s Conditional Response

Iran menyambut proposal tersebut dengan syarat, menyatakan bahwa mereka tidak akan membuka Selat Hormuz hanya sebagai bagian dari gencatan senjata sementara. Seorang pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa pihaknya belum siap menerima tenggat waktu, sekaligus mengkritik kesiapan AS untuk kesepakatan permanen. Saat ini, AS belum memberikan respons resmi terhadap rencana Pakistan.

“Situasi saat ini terasa seperti perkelahian anak sekolah yang sedang kita atasi. Ada ego yang harus dikelola, dan juga lautan ketidakpercayaan yang perlu dibangun jembatannya,” ujar Osama Bin Javaid, koresponden Al Jazeera.

Javaid menyoroti ketidakpercayaan tinggi di antara pihak-pihak terlibat, meski Pakistan sedang berdiskusi dengan ulama, diplomat, dan komandan militer Iran. Ia menekankan bahwa juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran secara berulang menyebutkan serangan dari AS dan Israel, yang memicu kekhawatiran tentang jaminan keamanan bagi pemimpin mereka jika kesepakatan tercapai.

Baghaei menggarisbawahi bahwa Iran tidak akan menyetujui rencana 15 poin yang diajukan AS bulan lalu, menganggapnya ambisius namun tidak masuk akal secara diplomasi. Pihak Iran menyatakan bahwa mereka sedang merumuskan tuntutan sendiri, akan mengungkapkannya saat waktu yang tepat. Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan internasional yang mengancam posisi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *