New Policy: IFF tegaskan orientasi terhadap pengelolaan risiko iklim

Jakarta – Direktur Utama/Chief Executive Officer PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Rizki Pribadi Hasan menegaskan orientasi terhadap pengelolaan risiko iklim. “Peran IIF yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pengelolaan risiko iklim sebagai salah satu prioritas utama, dengan memastikan setiap pembiayaan turut memberikan dampak nyata terhadap aspek lingkungan dan sosial,” ucapnya saat berpartisipasi pada 5th Annual Sustainability Week Asia yang diselenggarakan oleh Economist Impact di Bangkok, Thailand, dari keterangan resmi, Jakarta, Selasa. Dalam konteks transisi menuju ekonomi rendah karbon, IIF disebut telah mengarahkan alokasi pembiayaan ke proyek-proyek infrastruktur berkelanjutan seperti energi terbarukan dan proyek yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim.

Meskipun membutuhkan investasi awal yang lebih besar,, proyek-proyek tersebut dinilai memiliki stabilitas arus kas jangka panjang yang lebih baik serta risiko yang lebih terkendali. Komitmen tersebut diperkuat melalui berbagai inisiatif strategis, antara lain kerja sama dengan Danareksa dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk mendorong implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya dalam pembiayaan sektor-sektor produktif. Di sisi lain, kepercayaan investor internasional terhadap peran IIF juga terus meningkat yang tercermin dari investasi sebesar 30 juta dolar AS yang diberikan FinDev Canada pada awal tahun 2026 kepada IIF sebagai dukungan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rendah karbon di Indonesia.

Melihat dari kinerja keuangan, Rizki menyampaikan bahwa pihaknya selama tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025, sudah berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp185 miliar, tumbuh 51,2 persen dibandingkan Rp122,5 miliar pada tahun sebelumnya. Total aset ikut tumbuh 5 persen secara year-on-year hingga mencapai Rp15,4 triliun, didorong oleh peningkatan aset produktif sebesar 2 persen. “Dalam menghadapi transisi keberlanjutan, perusahaan tidak hanya dituntut untuk bergerak cepat, tetapi juga cermat dalam mengelola risiko.

Pendekatan yang diambil bukan semata soal kecepatan, melainkan bagaimana memastikan setiap keputusan investasi tetap fleksibel, terukur, dan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan ketahanan jangka panjang,” ungkap dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *