Key Strategy: Rupiah melemah karena masih dibayangi eskalasi perang AS-Iran
Rupiah melemah karena masih dibayangi eskalasi perang AS-Iran
Jakarta – Mata uang rupiah mengalami penurunan pada Selasa pagi sebesar 29 poin atau 0,17 persen, mencapai Rp17.064 per dolar AS dari Rp17.035 pada penutupan sebelumnya. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh kemungkinan perang antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menjadi ancaman.
“Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS akibat ketakutan terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Trump kembali mengulangi ancamannya untuk mengebom infrastruktur Iran pada hari Selasa (7/4),” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut laporan Sputnik, Trump menegaskan bahwa militer AS mampu menghancurkan Iran secara total dalam “satu malam” dan operasi tersebut bisa dilakukan paling cepat pada 7 April. Pada 30 Maret, ia menyatakan Washington akan “meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya” fasilitas Iran seperti pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, serta pabrik desalinasi jika kesepakatan damai tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Iran, melalui Anadolu, menolak usulan gencatan senjata dengan AS karena takut jeda perang memungkinkan musuh berkumpul kembali dan melanjutkan serangan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan Tehran hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata jika ada jaminan menghindari terulangnya konflik.
“Keputusan terkait keamanan nasional harus memastikan tidak ada tindakan agresi lebih lanjut,” tambahnya.
Lukman Leong menambahkan bahwa situasi saat ini masih memungkinkan rupiah Rp17 ribu sebagai nilai yang cukup stabil, tidak menyebabkan dampak signifikan pada pasar keuangan. Namun, ia memperingatkan Bank Indonesia untuk tetap memantau fluktuasi dan mencegah rupiah terlalu melemah.
Dengan pertimbangan tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.000 hingga Rp17.100 per dolar AS.