Special Plan: Pemkot Jaktim perkuat kolaborasi ASN jadi orang tua asuh anak stunting

Pemkot Jaktim Perkuat Kolaborasi ASN Jadi Orang Tua Asuh Anak Stunting

Jakarta – Kota Administrasi Jakarta Timur (Jaktim) terus mendorong penurunan angka stunting melalui partisipasi aktif pegawai negeri sipil (ASN) sebagai pengasuh anak-anak yang mengalami masalah pertumbuhan. Wali Kota Jakarta Timur Munjirin mengungkapkan, salah satu inisiatif yang diterapkan adalah program pengasuhan bagi balita dengan indikasi stunting atau yang sudah terkonfirmasi. Ia meminta ASN di lingkungan pemerintah daerah aktif berperan dalam menjaga kesehatan dan nutrisi balita tersebut.

“Kita mendorong inovasi seperti bapak asuh dan anak asuh, satu anak satu orang tua asuh, bahkan bisa lebih, serta peran aktif camat dan lurah dalam menggandeng stakeholder,” tutur Munjirin.

Dalam skema ini, satu pegawai negeri sipil ditempatkan untuk mendampingi satu hingga dua balita stunting, guna memastikan kebutuhan gizi mereka terpenuhi secara optimal. Munjirin menekankan bahwa penanganan stunting memerlukan pendekatan holistik, melibatkan faktor ekonomi, pengetahuan orang tua tentang pola asuh, hingga lingkungan sekitar. “Permasalahan stunting ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi, edukasi orang tua tentang pola makan, dan lingkungan,” jelasnya.

Kemitraan Lintas Sektor Menjadi Fokus Utama

Kemitraan antarinstansi menjadi kunci dalam menekan angka stunting secara berkelanjutan. Untuk mendorong kerja sama ini, Pemkot Jaktim melakukan penandatanganan komitmen bersama dalam Musrenbang tematik stunting, yang berlangsung pada Senin (6/4). “Kemarin kami juga melakukan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk keseriusan seluruh pihak dalam mengentaskan stunting,” ucap Munjirin.

Munjirin menambahkan, keterlibatan langsung ASN dan pihak terkait di tingkat kecamatan mampu mempercepat intervensi stunting secara lebih spesifik. Ia optimis bahwa dengan kolaborasi lintas sektor dan program inovatif, angka stunting di Jaktim dapat terus menurun, sekaligus mendorong kualitas generasi mendatang.

Program Fokus pada Kecamatan Cipayung

Sebelumnya, Pemkot Jaktim bersama tim terkait fokus mengatasi 83 balita yang diduga mengalami stunting di Kecamatan Cipayung. Dari jumlah tersebut, 10 anak mengalami gizi buruk, sedangkan 73 balita lainnya masih dalam kondisi kurang optimal. Pengawasan ketat dilakukan terutama dalam pemberian makanan tambahan selama tiga bulan.

Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Timur mencatat, pada awal 2025, terdapat 812 kasus stunting di wilayah tersebut. Angka ini terdiri dari 268 kasus stunting sangat pendek dan 544 kasus stunting pendek. Kecamatan dengan jumlah terbanyak adalah Cakung (147 kasus), diikuti Kramat Jati (102), Matraman (100), Cipayung (95), Ciracas (82), serta Duren Sawit dan Jatinegara masing-masing sebanyak 69 kasus. Pulogadung (57), Pasar Rebo (53), dan Makasar (38) juga termasuk dalam daftar wilayah yang perlu perhatian khusus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *