Key Strategy: Harga Minyak Masih Terbang, OPEC+ Siap Kerek Produksi

Harga Minyak Masih Terbang, OPEC+ Siap Kerek Produksi

Perdagangan minyak global mencatatkan kenaikan pada Selasa (7/4/2026), dipengaruhi oleh tingginya tekanan politik di wilayah Timur Tengah. Data Refinitiv pada pukul 09.40 WIB menunjukkan harga minyak Brent tercatat US$111,02 per barel, meningkat dari US$109,77 sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$114,61 per barel, melonjak dari US$112,41. Dalam seminggu terakhir, kenaikan harga terjadi secara konsisten, dengan Brent naik hampir 10% sejak 1 April, sedangkan WTI melesat lebih dari 14%.

Konflik di Selat Hormuz Memperburuk Ketegangan

Kenaikan harga terjadi di tengah eskalasi konflik di Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global. Iran diberitakan masih memblokir akses selat tersebut sejak akhir Februari, setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Akibatnya, aliran kapal tanker terhambat, menyebabkan gangguan pada pasokan internasional.

“Jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum batas waktu yang ditentukan, akan diambil langkah lebih jauh,” ancam Presiden AS Donald Trump. Ia juga memperingatkan bahwa Iran bisa “dihancurkan” apabila tidak mematuhi ultimatum tersebut.

Sementara itu, Iran menolak usulan gencatan senjata sementara dan menuntut penghentian konflik secara permanen. Kebutuhan akan pasokan alternatif meningkat, dengan kilang di Asia dan Eropa berlomba mendapatkan bahan bakar. Di tengah situasi ini, OPEC+ telah menyetujui kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei. Namun, realisasi kebijakan ini dipertanyakan karena beberapa negara utama menghadapi hambatan distribusi akibat penutupan jalur ekspor di daerah konflik.

Ketegangan di lapangan memperkuat sentimen pasar yang siaga. Iran dilaporkan menghentikan dua kapal LNG Qatar tanpa penjelasan, sementara Arab Saudi mengonfirmasi telah menangkap tujuh rudal balistik yang mengarah ke wilayah timur, dekat fasilitas energi. Serangan drone Ukraina ke infrastruktur minyak Rusia di Laut Hitam menambah tekanan pada pasokan global. Dalam kondisi ini, harga spot minyak, khususnya WTI, mencetak rekor premi, berkat permintaan yang tinggi.

Saudi Aramco bahkan menaikkan harga jual resmi Arab Light ke Asia hingga mencapai US$19,50 per barel, melampaui acuan Oman/Dubai. Langkah ini mencerminkan ketidakstabilan pasokan yang terus meningkat akibat situasi geopolitik yang memanas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *