Key Discussion: Krisis BBM Hantui Dunia, Rama Negara Utak-atik Aturan Pajak

Krisis BBM Hantui Dunia, Rama Negara Utak-atik Aturan Pajak

Dari Jakarta, Uni Eropa mulai mengusulkan tindakan ekstrem untuk mengatasi kenaikan harga energi akibat perang Iran, termasuk kemungkinan membatasi harga minyak atau menerapkan pajak untung tak terduga pada perusahaan energi. Wacana ini muncul setelah para menteri keuangan blok tersebut mempertimbangkan ancaman krisis energi baru yang bisa mengulang ketegangan era 2022.

Sebelum rapat menteri di Brussels, Komisi Eropa meminta para menteri keuangan UE mempertahankan bantuan energi bersifat sementara, sementara tetap mempercepat tujuan dekarbonisasi. Kini, para menteri mempertimbangkan langkah terkoordinasi berupa pembatasan harga minyak atau pajak atas keuntungan besar perusahaan energi untuk merespons kenaikan biaya energi yang terus terjadi.

“Skala, tingkat keparahan, dan dampak perang telah meningkat dalam dua pekan terakhir,” kata Komisaris Ekonomi UE Valdis Dombrovskis setelah pertemuan tingkat menteri di Brussels. Ia menyoroti penutupan Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi yang memicu harga minyak Brent melonjak ke US$100 per barel, sehingga memperparah kenaikan harga bahan bakar.

Presiden Eurogroup Kyriakos Mihrakakis menegaskan bahwa durasi konflik menjadi faktor utama. “Isu utamanya adalah durasi dan intensitas krisis, karena hal ini akan menentukan tingkat gangguan energi,” katanya. Dalam konferensi pers, ia menyampaikan harapan untuk deeskalasi dan menghindari gangguan besar pada infrastruktur energi.

Direktur pelaksana European Stability Mechanism Pierre Gramegna memperingatkan bahwa dampak perang akan bertahan lama, bahkan jika konflik segera berakhir. “Konsekuensinya akan tetap bersama kita untuk waktu yang lama,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah Australia mengambil langkah darurat untuk mengendalikan kenaikan biaya hidup akibat lonjakan harga energi global. Pada Senin, 30 Maret 2026, Canberra mengumumkan pemotongan pajak bahan bakar dan penghapusan sementara biaya jalan bagi kendaraan berat selama tiga bulan. Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan kebijakan ini diharapkan menurunkan harga bahan bakar sebesar 26,3 sen dolar Australia per liter.

“Kami memahami tekanan biaya bagi masyarakat sangat nyata karena dampak perang di belahan dunia lain kini terasa langsung di sini,” ujar Albanese, dilansir Reuters.

Langkah serupa juga diambil oleh India dan Vietnam. Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman mengatakan pemerintah memangkas bea cukai pusat untuk bensin dan solar yang digunakan dalam negeri. Kebijakan ini dianggap sebagai respons langsung terhadap krisis di Asia Barat.

Dalam catatan Komisi Eropa tertanggal 26 Maret, energi terbarukan menyumbang sekitar 48% dari bauran listrik UE pada 2025, meningkat dari 36% pada 2021, didorong oleh tenaga angin dan surya. Di sisi lain, bahan bakar fosil turun dari 34% menjadi 26% dalam periode yang sama. Meski Eropa telah mendiversifikasi pasokan energi sejak 2022, kawasan ini masih rentan terhadap gangguan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *