Key Strategy: Jutaan Warga AS Kini Berebut Paspor Kanada
Jutaan Warga AS Kini Berebut Paspor Kanada
Kebijakan baru yang mengubah aturan garis keturunan telah memicu peningkatan signifikan dalam jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan kewarganegaraan Kanada. Berdasarkan data dari Ottawa, konsultan imigrasi Cassandra Fultz mencatat permohonan dari penduduk AS melonjak hingga 10 kali lipat, mencerminkan minat yang stabil untuk pindah ke Kanada sejak November 2024.
Perubahan ini dimulai dari putusan pengadilan Kanada pada 2023 yang menetapkan bahwa pembatasan kewarganegaraan generasi pertama tidak sesuai dengan konstitusi. Sebelumnya, aturan melarang warga Kanada yang lahir di luar negeri dari mewariskan status kewarganegaraan kepada anak jika lahir di luar wilayah Kanada. RUU C-3 yang diumumkan menghapus batasan tersebut, mulai berlaku Desember 2024 dan membuka peluang bagi jutaan penduduk AS yang memiliki asal keturunan Kanada hingga beberapa generasi sebelumnya.
Peluang Baru untuk Warga AS
Menurut Fultz, peningkatan permohonan mencerminkan keinginan warga AS untuk mempertimbangkan Kanada sebagai pilihan cadangan, terutama di tengah dinamika politik dan sosial yang tidak stabil. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini diharapkan menghilangkan diskriminasi dalam sistem kewarganegaraan, “Pada dasarnya, warga Kanada tetap warga Kanada. Perubahan ini bertujuan meningkatkan kesetaraan,” katanya.
“Kenaikan minat yang konsisten untuk pindah ke Kanada mulai November 2024 mencapai tingkat yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam 17 tahun menjalani industri ini,” jelas Fultz, yang dikutip oleh CNN International pada Selasa (31/3/2026).
Dari sisi data, Perpustakaan dan Arsip Nasional Québec mencatat permintaan dokumen oleh warga AS melonjak dari 100 permohonan pada Februari 2025 hingga 1.500 dalam rentang waktu yang sama di tahun berikutnya. Waktu pemrosesan sertifikat kewarganegaraan Kanada sekarang membutuhkan sekitar 10 bulan, dengan lebih dari 50.900 pemohon masih menunggu keputusan.
Cerita Pemohon dan Motivasi Mereka
Seorang pemohon, Ellen Robillard (52) dari New York, mengatakan langsung mengajukan status kewarganegaraan setelah aturan baru berlaku. “Saya benar-benar tidak mengenal dunia saya lagi,” ujarnya, menggambarkan kekecewaannya terhadap kondisi sosial-politik di AS. Robillard, yang aktif dalam kegiatan politik, juga menyebutkan bahwa polarisasi politik membuatnya menerima ancaman dan mengalami tekanan mental.
Rachel Rabb (34), yang kini tinggal di Amerika Latin, mengungkapkan bahwa menemukan leluhur Kanada dari garis nenek buyutnya menjadi alasan utama untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. “Menemukan bahwa saya memiliki leluhur Kanada adalah keuntungan besar, terlebih dalam situasi politik yang sedang kritis,” katanya. Ia menambahkan ketidaknyamanan terhadap keamanan dan kebijakan di AS, “Ini adalah masa yang sangat menakutkan saat ini karena siapa pun bisa menjadi sasaran.”
Reaksi yang Beragam
Meski banyak pihak menyambut perubahan aturan ini, tidak semua warga Kanada setuju. Beberapa mengkritik kebijakan karena dianggap memberi keuntungan bagi penduduk asing yang tidak memiliki ikatan kuat dengan Kanada. Namun Fultz menegaskan bahwa perubahan ini bertujuan meningkatkan kesetaraan, “Ini tentang memperluas akses bagi individu berpotensi berkontribusi positif bagi Kanada,” tuturnya.