Latest Program: Data HSCBikin Harga Saham Terkoreksi, Ini Kata Pengamat

Data HSC Memengaruhi Pergerakan Saham, Pengamat Beri Penjelasan

Jakarta, Pengumuman daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) baru-baru ini berdampak pada harga beberapa saham yang masuk dalam kriteria tersebut. Setelah pengumuman, data perdagangan menunjukkan bahwa tujuh saham mengalami tekanan penjualan, sementara dua lainnya justru melihat kenaikan harga. Contohnya, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) mengalami penurunan tertinggi sebesar 14,58%, diikuti PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang turun 13,06%, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang melemah 12,60%. Di sisi berlawanan, saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) naik 11,42%, sedangkan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) melonjak 9,76%.

Analisis dari Pengamat Pasar Modal

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai data HSC bisa memengaruhi penurunan bobot saham di indeks global seperti MSCI. Ia mengatakan, arus dana asing mungkin terpengaruh, tetapi koreksi ini juga bisa menjadi kesempatan bagi investor yang yakin pada fundamental perusahaan.

“Begitu periode koreksi usai, harga akan kembali ke fundamental. Jika kita percaya pemegang saham pengendali menguasai sekitar 80% saham, maka saat harga turun justru saat yang tepat untuk membeli,” ujar Budi kepada CNBC Indonesia, Senin, (7/4/2026).

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, mengatakan daftar HSC sebenarnya bertujuan meningkatkan transparansi kepemilikan saham. Namun, ia menekankan bahwa investor tetap harus memperhatikan kinerja, prospek, serta likuiditas saham sebelum membuat keputusan investasi.

“Pelaku pasar akan mengamati respons manajemen perusahaan. Jika mereka meningkatkan kepemilikan publik, saham bisa keluar dari kriteria HSC,” terang Reza.

Strategi Investasi dalam Pasar yang Transparan

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengungkapkan bahwa pengumuman HSC memicu penyesuaian harga jangka pendek. Saham yang likuiditasnya rendah dan kepemilikan terkonsentrasi cenderung terkena tekanan akibat pergeseran menuju pasar yang lebih terbuka.

“Strategi terbaik saat ini adalah tidak terburu-buru. Investor sebaiknya mulai membeli secara bertahap, terutama pada saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan free float besar,” jelas Hendra.

Dari sisi teknikal, Hendra menyebut IHSG kini berada di area kritis setelah menyentuh level 7.000. Jika level 6.917 tidak bertahan, indeks berpotensi turun hingga 6.745, sementara kenaikan membutuhkan penembusan rentang 7.300-7.350.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *