Special Plan: Mandatori B50 Direncanakan Juli 2026, Ketua Komisi XII DPR Bilang ini

Mandatori B50 Direncanakan Juli 2026, Ketua Komisi XII DPR Bilang Ini

Ketua Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Patijaya, menyatakan Indonesia memperlihatkan kemampuan besar dalam mengembangkan bahan bakar nabati untuk mencapai kemandirian energi. Ia menyoroti kemajuan signifikan dalam penerapan biodiesel, yang kini berada di tingkat B40 dan akan naik ke B50 pada bulan Juli 2026.

“Program biodiesel yang berhasil membuktikan bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat dalam menciptakan kemandirian energi berbasis sumber daya lokal. Ini harus terus diperkuat dan dioptimalkan,” ujar Bambang seperti dikutip siaran pers, Selasa (7/3/2026).

Dalam pembicaraannya, Bambang menyebut Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, dengan produksi Crude Palm Oil (CPO) mencapai lebih dari 45 juta ton setiap tahun. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa negara ini mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel secara berkelanjutan, terlepas dari peningkatan persyaratan bahan bakar.

Selain biodiesel, Bambang juga menekankan potensi pengembangan bioetanol sebagai pengganti bensin. Ia menunjukkan bahwa bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung cukup melimpah untuk didorong melalui peningkatan ekosistem industri bioenergi nasional.

“Pengembangan bioetanol harus menjadi agenda strategis berikutnya. Dengan sumber bahan baku yang luas, Indonesia punya peluang mengurangi ketergantungan impor bensin secara bertahap,” katanya.

Menurut Bambang, kebijakan bioenergi perlu dijalankan secara terukur dan terintegrasi untuk menghindari dampak negatif pada ketahanan pangan atau kebutuhan industri lain. “Pemerintah wajib memastikan keseimbangan antara kebutuhan energi, pangan, dan sektor manufaktur. Ini penting agar program bioenergi tidak menimbulkan tekanan pada harga pangan atau pasokan domestik,” terang legislator asal daerah pemilihan Bangka Belitung.

Ia yakin, dengan perencanaan yang tepat, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan biodiesel dan bioetanol tanpa mengorbankan sektor lain. Hal ini bisa dicapai melalui peningkatan produktivitas, optimalisasi penggunaan lahan, serta pemanfaatan bahan bakar alternatif yang tidak bersaing langsung dengan pangan.

Bambang juga mendorong pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur dan regulasi pendukung, termasuk insentif investasi untuk sektor bioenergi. “Sinergi kebijakan yang tepat akan menjadikan biodiesel dan bioetanol bukan hanya solusi energi, tapi juga penggerak ekonomi nasional, pembuat lapangan kerja, serta peningkatkan ketahanan energi Indonesia di tengah perubahan global,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *