Keramahan palsu – jerat predator seksual di transportasi daring

Keramahan Palsu, Jerat Predator Seksual di Transportasi Daring

Di Jakarta, pada akhir Maret lalu, seorang korban bernama SKD (20) mengalami pengalaman tak terduga saat menggunakan layanan transportasi daring. Perjalanan yang awalnya biasa saja berubah menjadi momen menyedihkan ketika pengemudi melontarkan pertanyaan menyinggung layanan prostitusi dan mengajak korban berpacaran.

Korban memesan taksi daring dari Stasiun Gambir ke hotel di Jakarta Pusat. Saat perjalanan berlangsung, pengemudi berinisial WAH (39) secara perlahan menggoda dengan meraba dan meremas paha SKD. Dia juga mengubah arah kendaraan ke tempat yang lebih sepi. Kaca film 80 persen di mobil memperparah rasa takut korban, karena membuat interior mobil gelap dari luar.

Pada saat WAH berpindah ke bangku belakang, ia mencoba menindih tubuh SKD secara paksa. Korban berusaha melawan dan merekam tindakannya. Setelah menyadari dirinya direkam, pelaku memperlihatkan reaksi panik. Ia merebut ponsel korban dan melakukan kekerasan, salah satunya dengan mencekik.

“Kombes Pol Rita Wulandari Wibowo mengatakan, pihaknya memfasilitasi korban bertemu dengan tim pendamping dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) DKI Jakarta,”

Korban akhirnya berhasil menyelamatkan diri meski dalam kondisi bingung. Dia mengunggah video kejadian tersebut di media sosial, yang kemudian viral dan menarik perhatian polisi. Sejak ditangkap di Depok pada 1 April lalu, WAH diduga mengonsumsi sabu sehari sebelum kejadian, yang mungkin memengaruhi psikologinya dan keberaniannya beraksi.

Menurut data Komnas Perempuan, tahun 2025 mencatat delapan kasus kekerasan terhadap perempuan dalam layanan transportasi daring, di mana kebanyakan terkait pelecehan seksual. Kasus SKD menjadi salah satu contoh menunjukkan bagaimana perilaku kasar bisa terjadi di ruang publik yang seharusnya aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *