Meeting Results: Waspadai gejala adiksi gawai pada anak

Waspadai Gejala Adiksi Gawai Pada Anak

Jakarta – Ratriana Naila Syafira, seorang psikolog klinis yang lulus dari Universitas Indonesia, menjelaskan beberapa indikator perilaku anak yang bisa menjadi tanda adiksi gawai. Menurutnya, otak anak di usia balita sangat bergantung pada interaksi langsung untuk berkembang di bidang bahasa, emosi, dan hubungan sosial. Jika penggunaan gawai tidak dibatasi, dampaknya bisa terasa jelas, terutama pada aspek kognitif dan sosial.

Gejala Awal Adiksi Gawai

Ratriana menyoroti satu tanda awal yang patut diperhatikan, yaitu ketika anak memegang gawai terus-menerus dan tidak ingin melepaskannya. Hal ini sering disertai dengan reaksi emosi yang kuat ketika alat tersebut diambil atau aturan penggunaannya dijelaskan. Anak yang sedang terpapar adiksi juga cenderung tidak tertarik mengikuti kegiatan lain yang ditawarkan oleh orang tua.

“Perkembangan otak pada masa balita, terutama yang berkaitan dengan bahasa, emosi, dan relasi sosial, bergantung pada interaksi langsung. Jika paparan gawai tidak ada batasan, dampaknya bisa cukup signifikan,”

Dalam kondisi lebih lanjut, kebiasaan ini dapat mengganggu kemampuan anak dalam melakukan tugas sehari-hari, seperti makan, mandi, atau merapikan barang. Contohnya, di usia sekolah, adiksi gawai bisa berdampak pada prestasi akademik.

Peran Interaksi Langsung dalam Pengembangan Kemampuan Sosial

Ratriana menekankan bahwa anak-anak di era sekarang lebih terbiasa dengan stimulasi dari layar, dibandingkan belajar melalui interaksi timbal balik. Kemampuan seperti berkomunikasi dua arah, menunggu giliran, membaca ekspresi wajah, memahami nada suara, atau merespons emosi orang lain menjadi dasar pengembangan empati dan keterampilan sosial.

“Padahal, kemampuan-kemampuan ini adalah fondasi dari empati dan keterampilan sosial di kemudian hari,”

Kebiasaan berlebihan dalam menggunakan gawai juga menyebabkan anak sulit mempertahankan kontak mata dan komunikasi langsung. Mereka cenderung lebih mudah kehilangan fokus dan mengalami frustrasi ketika tidak mendapat stimulus visual.

Strategi Orang Tua dalam Mengelola Penggunaan Gawai

Dalam upaya mencegah adiksi, Ratriana menyarankan orang tua memberikan pengawasan ketat dan mengajak anak berinteraksi melalui media digital secara terstruktur. Alat elektronik bukanlah musuh, tetapi bisa menjadi sarana belajar jika digunakan dengan tepat. Menurutnya, kunci utama adalah menekankan interaksi langsung, bukan hanya menonton tanpa henti.

“Maka risiko-risiko dari dampak screen time bisa diminimalkan. Jangan sampai juga durasi screen time melebihi durasi interaksi dan kualitas waktu bersama anak dengan orang tua,”

Di sisi lain, kebijakan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang mulai berlaku 28 Maret 2026 di Indonesia dinilai sebagai langkah positif. Kebijakan ini diharapkan bisa membantu membentuk generasi yang lebih berkualitas dengan membatasi akses anak pada platform digital berisiko tinggi, seperti YouTube, TikTok, Facebook, Threads, Instagram, X, Bigo Live, dan Roblox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *