Key Strategy: Masjid Ramah Pemudik diharapkan jadi model layanan berkelanjutan
Masjid Ramah Pemudik diharapkan jadi model layanan berkelanjutan
Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) menargetkan Program Masjid Ramah Pemudik tetap ditingkatkan menjadi contoh layanan yang berkelanjutan, dengan pusat ibadah sebagai titik utama. “Kami berharap momentum positif ini tetap dipertahankan dan diperluas pada masa mendatang. Masjid Ramah Pemudik bukan hanya bersifat sementara selama masa libur, tetapi berpotensi menjadi bentuk layanan masyarakat yang terus berkembang,” papar Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Selasa.
“Tren penggunaan yang meningkat tajam menunjukkan kebutuhan masyarakat akan fasilitas yang diberikan,” kata Arsad, yang menekankan peran masjid sebagai ruang pelayanan yang nyata.
Pada Lebaran 2026, Kemenag mengalokasikan 6.859 masjid di jalur utama seperti Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatera untuk operasional 24 jam sejak 9 hari sebelum hingga 7 hari setelah Idul Fitri. Dalam tahun sebelumnya, 8.710 masjid terlibat dengan total pengunjung sekitar 1,6 juta orang. Angka pemudik yang beristirahat di masjid mencapai 3.592.348 orang pada 2026, naik drastis dibandingkan 1.617.641 orang di 2025. Data ini belum mencakup penggunaan vihara, gereja, dan tempat ibadah agama lain yang juga menawarkan fasilitas serupa.
Arsad menjelaskan bahwa sebagian besar pengguna layanan masjid berasal dari pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor dan mobil. Hal ini sesuai dengan kondisi arus mudik yang dominan melalui jalur darat. Selain fungsi ibadah, masjid juga menyediakan layanan tambahan seperti tempat istirahat, air minum, toilet bersih, serta pengisian daya gawai.
“Fasilitas ini mendukung pemudik menjaga kesehatan fisik selama perjalanan,” tambah Arsad, yang menyoroti tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.
Dari evaluasi, hampir seluruh responden menyatakan kepuasan terhadap kualitas tempat shalat, kebersihan, dan rasa aman. “Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga bentuk kepedulian sosial yang nyata,” ujar Arsad. Ia juga mengapresiasi peran aktif pengurus masjid, penyuluh agama, KUA, dan komunitas setempat dalam memastikan keberhasilan program tersebut.