BTS bus listrik Bojonggede-Sentul butuh Rp12 miliar setahun

BTS Bus Listrik Bojonggede-Sentul Membutuhkan Rp12 Miliar Setahun

Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah memproyeksikan anggaran sekitar Rp12 miliar per tahun untuk implementasi skema Buy The Service (BTS) pada layanan bus listrik Bojonggede–Sentul. Bayu Ramawanto, kepala dinas perhubungan setempat, menjelaskan bahwa estimasi ini dihitung berdasarkan jarak tempuh armada, jumlah rute harian, serta biaya operasional per kilometer.

Dasar Perhitungan Anggaran

Menurut Bayu, biaya operasional diperkirakan berkisar antara Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilometer. Dengan asumsi rata-rata perjalanan harian mencapai 300 kilometer, total anggaran bisa dihitung melalui perhitungan sederhana.

“Untuk sementara kita hitung bus listrik itu sekitar Rp10.000 sampai Rp12.000 per kilometer. Kalau sehari bisa 300 kilometer, tinggal dikalikan saja,” ujar Bayu.

Kebutuhan Armada dan Jarak Tempuh

Trayek Bojonggede–Sentul memiliki panjang sekitar 50 kilometer. Dengan asumsi satu armada menempuh enam rute per hari, jarak tempuh harian mencapai 300 kilometer. Dengan skema BTS, biaya operasional dihitung dari tarif per kilometer dikalikan total jarak tempuh harian dan durasi operasi bulanan.

Dishub Kabupaten Bogor memperkirakan kebutuhan sembilan unit bus untuk menunjang koridor tersebut. Hal ini membuat total anggaran tahunan diproyeksikan mencapai sekitar Rp12 miliar.

Keunggulan Skema BTS

Bayu menuturkan, skema BTS memiliki kelebihan karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana awal untuk pembelian armada atau penggajian pengemudi. “Keuntungannya kita tidak perlu beli bus, tidak perlu menggaji pengemudi. Tinggal bayar layanan saja,” katanya.

Ia menambahkan, perhitungan saat ini masih didasarkan pada asumsi layanan gratis, sehingga seluruh biaya ditanggung melalui subsidi. Jika nanti diterapkan tarif berbayar, sebagian biaya bisa tertutupi dari pendapatan operasional.

“Kalau satu bus bisa menghasilkan Rp100 juta per bulan, berarti setahun Rp1,2 miliar. Kalau sembilan bus, bisa sekitar Rp9 miliar. Itu bisa mengurangi beban subsidi,” ujar Bayu.

Uji Coba dan Pertimbangan

Sebelumnya, Pemkab Bogor melalui Dishub tengah melakukan uji coba pada trayek Bojonggede–Sentul. Langkah ini bertujuan mengevaluasi respons masyarakat, efektivitas layanan, serta kemungkinan integrasi dengan infrastruktur transportasi yang sudah ada.

Dishub juga mempertimbangkan pengembangan trayek baru agar tidak mengganggu operasi angkutan kota yang sudah berjalan. “Makanya kita uji coba dulu, supaya tidak terlalu banyak bersinggungan dengan trayek angkot yang sudah berjalan,” kata Bayu.

Dia menyatakan, pengembangan angkutan massal melalui skema BTS diharapkan mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke sistem transportasi umum yang lebih terintegrasi dan terstruktur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *