Topics Covered: Kemendikdasmen siapkan akomodasi dukung pelaksanaan TKA bagi ABK

Kemendikdasmen siapkan akomodasi dukung pelaksanaan TKA bagi ABK

Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyusun berbagai fasilitas pendukung untuk menjalankan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa SMP yang berkebutuhan khusus. Rahmawati, kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, menyatakan bahwa fasilitas ini tidak hanya ditujukan kepada peserta TKA yang belajar di sekolah luar biasa (SLB), tetapi juga diberikan kepada mereka yang mengenyam pendidikan di sekolah reguler dengan program inklusi.

“Jadi, tidak hanya untuk sekolah luar biasa, untuk murid-murid berkebutuhan khusus di sekolah reguler pun kami memberikan akomodasi. Akomodasi ini dalam bentuk soal yang sudah disesuaikan,” kata Rahmawati dalam acara Pertemuan Media Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik Jenjang SMP/MTs/sederajat di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa malam.

Akomodasi berupa soal tersebut disesuaikan dengan tantangan yang dialami peserta. Untuk siswa dengan gangguan penglihatan, seperti tunanetra atau low vision, pihaknya menyediakan paket soal yang mengandung gambar minimal, baik dalam bentuk grafik, tabel, atau ilustrasi.

“Hal ini dikarenakan paket soal yang demikian akan dibacakan melalui aplikasi screen reader sehingga hampir seluruh soal dalam bentuk kalimat,” katanya.

Di sisi lain, bagi peserta dengan kondisi tunarungu atau ABK yang memiliki hambatan belajar ringan, Kemendikdasmen menyajikan soal dengan konten gambar lebih banyak dan kalimat lebih sedikit. “Karena mereka lebih kuat di visual daripada kosakata ataupun kalimat-kalimat yang kompleks. Dan itu sudah diterapkan,” tambah Rahmawati.

Penerimaan masukan dari sekolah tentang jadwal TKA

Pada kesempatan yang sama, Toni Toharudin, kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, menyampaikan bahwa pihaknya menerima berbagai saran terkait penyelenggaraan TKA untuk peserta ABK. Beberapa lembaga pendidikan menyarankan agar jadwal ujian tidak diatur terlalu pagi, mengingat para siswa disabilitas membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai di sekolah.

“Ada masukan memang yang sangat bagus, bahwa khusus untuk siswa-siswa disabilitas agar waktunya tidak terlalu pagi. Jadi mungkin harus disimpan di sesi yang agak siang, sesi 2, sesi 3, supaya tidak berat untuk siswa-siswa disabilitas datang di pagi hari,” kata Toni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *