Solving Problems: JK soroti peran masyarakat sipil dalam kegiatan kemanusiaan

JK soroti peran masyarakat sipil dalam kegiatan kemanusiaan

Di Jakarta, mantan wakil presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menggarisbawahi pentingnya kontribusi masyarakat sipil dalam menghadapi berbagai permasalahan kemanusiaan, baik akibat konflik maupun bencana alam. Dalam kuliah umum di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, pada Selasa, ia menegaskan bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama dalam menjalankan kegiatan kemanusiaan.

Kalla menyebutkan tantangan utama yang dihadapi oleh upaya kemanusiaan saat ini berasal dari dua aspek, yaitu konflik antarmanusia dan konflik dengan lingkungan alam. “Konflik terjadi di berbagai wilayah seperti Ukraina, Timur Tengah, hingga di dalam negeri seperti Papua,” jelasnya. Sementara itu, bencana alam seperti banjir, gempa, dan tsunami juga menimbulkan dampak signifikan pada masyarakat.

Pemicu Konflik Kemanusiaan

Kalla menambahkan bahwa konflik kemanusiaan biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ideologi, persaingan wilayah, kepentingan politik, dan sumber daya alam. Ia memberi contoh konflik global dan nasional yang memengaruhi kehidupan masyarakat sipil secara luas. Menurutnya, penyelesaian masalah kemanusiaan tidak hanya bisa dilakukan dengan memperhatikan korban, tetapi juga dengan mengatasi akar penyebab konflik tersebut.

“Kalau konfliknya selesai, masalah kemanusiaannya juga ikut selesai. Ini lebih cepat dan efektif dibanding hanya fokus pada dampaknya,” ujarnya.

Pengalaman Penanganan Konflik di Indonesia

Dalam menyampaikan pandangan, Kalla mengingatkan pengalamannya saat menghadapi konflik di Indonesia pada awal 2000-an, seperti di Poso, Ambon, dan Aceh. Saat itu, sekitar 1,5 juta orang terpaksa mengungsi. Ia menekankan perlunya pendekatan logis, pemahaman tentang penyebab utama, serta keberanian dalam menyelesaikan konflik sosial, termasuk yang berbasis agama.

“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan membunuh orang lain tanpa alasan. Pendekatan ini kami terapkan di Poso dan Ambon,” kata dia.

Keterlibatan Masyarakat dalam Bantuan

Kalla juga menyoroti kebutuhan gotong royong dalam penanganan bencana. Menurutnya, partisipasi masyarakat luas adalah kunci keberhasilan berbagai upaya kemanusiaan, seperti saat bencana tsunami Aceh atau pandemi COVID-19. Ia menambahkan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan alat utama untuk memicu keikutsertaan mereka sebagai relawan atau donor.

“Contohnya dana Palang Merah Indonesia berasal dari kontribusi warga. Mereka percaya bahwa bantuan akan digunakan secara tepat,” ujarnya.

Kalla menuturkan bahwa saat ini Palang Merah Indonesia didukung oleh sekitar 1,5 juta relawan, yang terdiri dari berbagai profesi, mulai dari mahasiswa hingga tenaga medis. Ia berharap universitas bisa berperan aktif dalam meneliti cara mencegah bencana alam. “Kampus bisa membuat penelitian yang langsung berdampak pada upaya mengurangi kerusakan lingkungan,” tutur mantan wakil presiden tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *