Waspadai aksi-aksi pelaku kejahatan “child grooming”
Waspadai aksi-aksi pelaku kejahatan “child grooming”
Seminar daring di Jakarta
Jakarta – Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengungkap langkah-langkah umum yang dilakukan oleh pelaku kejahatan child grooming. Seminar daring yang dihadiri dari Jakarta pada Selasa lalu menjadi ajang penyampaian informasi ini.
Upaya manipulasi psikologis
Istilah “child grooming” mengacu pada proses manipulasi mental untuk mencekoki anak atau remaja menjadi korban eksploitasi seksual. Ariani menekankan bahwa kejahatan ini bisa terjadi di ruang digital, seperti media sosial, game online, atau aplikasi pesan. “Pelaku biasanya menggunakan identitas palsu atau memakai foto orang lain untuk menipu,” katanya dalam
sebuah wawancara.
Proses membangun kepercayaan
Menurut Ariani, ada pula pelaku yang bertindak langsung di lingkungan anak. Ia mengungkap bahwa pelaku di dunia nyata sering berasal dari keluarga atau lingkaran terdekat korban. “Mereka memulai pendekatan secara daring, lalu mengajak korban bertemu secara fisik,” tambahnya dalam
penjelasan.
Pemilihan sasaran
Ariani menjelaskan bahwa pelaku child grooming biasanya memilih anak yang rentan, seperti yang kesepian, kurang percaya diri, atau berasal dari keluarga tidak harmonis. “Mereka menyasar korban dengan risiko lebih tinggi,” ujarnya dalam
pernyataan.
Namun, ia menegaskan bahwa bahkan anak yang tampak baik-baik saja bisa jadi sasaran jika sedang dalam fase pengembangan diri.
Strategi mempertahankan kendali
Pada tahap awal, pelaku berusaha membangun hubungan dengan anak dan orang tua. Mereka memberi perhatian, kasih sayang, serta hadiah untuk menumbuhkan rasa aman. “Pelaku menawarkan ‘rahasia’ sebagai alasan untuk memperoleh kepercayaan anak,” katanya dalam
dialog.
Isolasi dan manipulasi hubungan
Selanjutnya, pelaku mengisolasi korban dengan menciptakan atmosfer di mana anak merasa hanya memahami pelaku. “Mereka memulai dari sentuhan nonseksual, lalu menormalisasi kontak yang lebih intim,” papar Ariani dalam
penjelasannya.
Setelah itu, manipulasi terus dilakukan agar korban tak menolak tindakan seksual. Ancaman seperti menyebarkan foto atau video juga digunakan untuk memaksa anak mempertahankan diam.
Kondisi yang menyebabkan rentan
Ariani menyoroti bahwa keinginan anak untuk dihargai dan dikenal bisa menjadi celah bagi pelaku. “Anak yang sedang berkembang dan ingin dipuji rentan terjebak dalam jaringan grooming,” ujarnya dalam
berbicara.
Proses ini membutuhkan strategi psikologis untuk membuat korban merasa terikat dan takut mengungkapkan kebenaran.