New Policy: Perpusnas jadikan “Relima” penggerak utama budaya literasi
Perpusnas Jadikan “Relima” Penggerak Utama Budaya Literasi
Jakarta – Pada Selasa, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) E. Aminudin Aziz menyatakan bahwa program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) dianggap sebagai inisiatif utama dalam mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca di Indonesia. Menurutnya, literasi merupakan dasar penting dalam meningkatkan martabat bangsa, dan Relima berperan signifikan dalam mengaktifkan masyarakat langsung.
Ekosistem Literasi yang Berkelanjutan
Relima, lanjut Aminudin, tidak hanya menggerakkan partisipasi masyarakat tetapi juga mengubah konsep perpustakaan menjadi ruang dinamis. “Perpustakaan sekarang bukan lagi tempat menyimpan buku, melainkan pusat kreativitas dan pemberdayaan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa literasi melibatkan kemampuan berpikir kritis, menilai informasi, serta menghasilkan inovasi.
“Tidak ada bangsa yang bermartabat jika literasinya rendah. Literasi adalah fondasi keberadaban manusia, mulai dari memahami lingkungan hingga menciptakan sesuatu baru,” tutur Aminudin.
Penguatan Pendidikan melalui Kebijakan Afirmatif
Dalam upaya memperkuat ekosistem literasi, Perpusnas menyoroti alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) minimal 10 persen untuk buku bacaan non-teks. Langkah ini dianggap sebagai dukungan pemerintah untuk menjangkau pendidikan secara lebih luas. “Kebijakan ini memastikan literasi bisa diakses oleh semua lapisan,” katanya.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Aminudin juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mengembangkan budaya literasi. “Perpusnas perlu didengar oleh kebijakan pembuat, karena dari sini terbentuk fondasi pembangunan manusia,” ujarnya. Ia menambahkan, program Relima akan terus diperluas hingga mencapai 360 relawan di sekitar 200 kabupaten/kota pada 2026.