Historic Moment: Akademisi: Festival Pawai Paskah di Kupang dorong pariwisata dan UMKM
Akademisi: Festival Pawai Paskah di Kupang dorong pariwisata dan UMKM
Kupang, NTT (ANTARA) – Dr. Roland E. Fanggidae, seorang akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana), menilai Festival Pawai Paskah Pemuda GMIT di Kupang, NTT, bisa menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus promosi wisata spiritual. “NTT memiliki berbagai acara Paskah yang cukup besar di Indonesia, mulai dari Semana Santa di Larantuka hingga Pawai Kemenangan di Kupang. Festival ini bisa jadi contoh bagus dalam mengemas kegiatan keagamaan sebagai destinasi wisata spiritual,” ujarnya di Kupang, Selasa.
Festival tersebut digelar pada Senin (6/4) dan dibuka langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dr. Roland mengapresiasi pernyataan Gibran yang menekankan pentingnya identitas kuat dalam pengembangan pariwisata, terutama di sektor spiritual. “Labuan Bajo sudah terkenal karena potensi maritimnya, sehingga daerah lain harus menonjolkan keunikan sendiri. Maka, rangkaian acara Festival Paskah ini bisa menjadi potensi wisata spiritual,” tambahnya.
Konsep Baru dengan Nuansa Hiburan
Dalam penyelenggaraan tahun ini, pemuda GMIT mengubah konsep Pawai Paskah menjadi festival yang lebih dinamis. Selain arak-arakan mobil yang menampilkan cerita dari Alkitab, acara ini juga menghadirkan elemen hiburan dan melibatkan UMKM lokal. “Setiap titik tertentu dalam acara disediakan ruang bagi pelaku usaha mikro untuk menjual produk. Ini menarik karena masyarakat bisa langsung merasakan dampak ekonomi dari festival,” katanya.
“Ketika dikemas sebagai wisata spiritual, pesan-pesan agama harus tetap muncul dan menjadi kekuatan utama,” ujarnya.
Dr. Roland juga menekankan bahwa nilai keagamaan dan teologis tetap harus dipertahankan agar kegiatan ini tidak tergeser oleh komersialisasi. Ia berharap pariwisata spiritual di NTT bisa didukung dengan kalender acara tetap agar masyarakat dan wisatawan dapat mengatur waktu kunjungan. “Ketika orang datang, ekonomi akan mulai bergerak, mulai dari penginapan, makan minum, hingga ekonomi kreatif seperti ole-ole. Tiga sektor ini akan memberikan dampak signifikan jika Festival Paskah dikembangkan sebagai destinasi wisata spiritual,” jelasnya.
Rebranding dan Model Pengembangan
Dalam upaya meningkatkan pariwisata spiritual, Dr. Roland mendorong pemerintah daerah untuk melakukan rebranding bersama lembaga keagamaan dan sektor swasta. Ia mengusulkan dua model ideal yang perlu dikembangkan: community based tourism, di mana masyarakat lokal menjadi aktor utama, serta integrasi rantai pasok yang menghubungkan ritual keagamaan dengan wisata dan peningkatan produksi produk lokal. “Dengan dua model ini, ke depan Festival Pawai Paskah diharapkan tetap mempertahankan makna keagamaan, sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata bagi UMKM,” pungkasnya.