Key Strategy: Bapanas antisipasi fluktuasi harga pangan saat Idul Adha sejak dini

Bapanas Antisipasi Fluktuasi Harga Pangan Saat Idul Adha Sejak Dini

Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil tindakan proaktif sejak awal untuk mengatasi perubahan harga pangan sebelum Idul Adha 1447 Hijriah. Langkah ini mencakup penguatan pasokan, distribusi, serta pemantauan harga di seluruh wilayah Indonesia. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan timnya bergerak lebih dini agar fluktuasi harga tidak mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat.

“Bulan Mei nanti kita menghadapi Hari Raya Idul Adha. Potensi kenaikan permintaan pasti ada, sehingga kami melakukan langkah awal untuk mengendalikan harga,” ujar Ketut di Jakarta, Selasa.

Ketut menegaskan bahwa persiapan dilakukan khususnya untuk menjaga stabilitas harga daging kurban. “Kami berharap fluktuasi harga bisa dikendalikan dengan baik, terutama di sektor daging,” tambahnya.

Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengawasan Harga

Penguatan pengawasan harga pangan dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai sektor, termasuk Satuan Tugas (Satgas) Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan. Tim ini sudah berjalan sejak sebelum Ramadan lalu. Menurut Ketut, hasilnya terlihat dalam penurunan inflasi pangan, baik secara bulanan maupun tahunan.

Menurutnya, inflasi pangan pada Maret 2026 mencatatkan penurunan 1,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini turun dari 2,50 persen di bulan Februari. Secara tahunan, inflasi pangan juga menunjukkan penurunan menjadi 4,24 persen dari 4,64 persen di tahun sebelumnya.

Penguatan Cadangan Pangan sebagai Strategi Utama

Sebagai persiapan, pemerintah memperkuat cadangan pangan (CPP) guna menghadapi lonjakan permintaan selama Idul Adha. Berdasarkan data per 6 April 2026, stok CPP mencapai 4,4 juta ton untuk beras, yang merupakan level tertinggi sejak lama. Komoditas lainnya seperti jagung pakan, minyak goreng, gula pasir, daging sapi, daging kerbau, serta daging ayam dan telur ayam juga memiliki stok yang cukup.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tekanan inflasi selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini terkendali. Historisnya, periode tersebut sering memicu kenaikan harga, tetapi 2026 menunjukkan perubahan. “Tahun 2026 di bulan Maret, ada momen puasa dan Lebaran. Inflasinya tidak setinggi tahun lalu,” jelas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

“Artinya, harga yang diterima masyarakat tidak naik sebesar inflasi Ramadan dan Lebaran tahun sebelumnya,” ucap Amalia.

PascaIdul Fitri, tren penurunan harga terus berlanjut. Berdasarkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu pertama April, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga semakin berkurang. Sebaliknya, wilayah dengan penurunan harga justru semakin banyak. Contohnya, kenaikan IPH daging ayam ras menurun dari 237 daerah menjadi 148 daerah. Sementara cabai rawit dan telur ayam ras juga mengalami penurunan jumlah daerah yang mengalami kenaikan.

Daging sapi menjadi komoditas dengan perubahan IPH terbesar. Minggu pertama April mencatatkan 80 daerah mengalami kenaikan, dibandingkan 186 daerah di minggu sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *