Topics Covered: Dirut Bulog: Kemasan beras aman di tengah isu kelangkaan biji plastik
Dirut Bulog: Stok Kemasan Beras Masih Memadai Meski Ada Isu Kelangkaan Biji Plastik
Jakarta – Kepala Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa pasokan bahan kemasan beras tetap terjamin meski ada berbagai isu mengenai kelangkaan biji plastik akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. “Bulog masih memiliki stok yang memadai untuk menghadapi kebutuhan plastik tersebut,” ujar Rizal seusai rapat dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa.
Menurut Rizal, masalah biji plastik saat ini menjadi tanggung jawab Kementerian Perindustrian. Namun, ia menambahkan bahwa perusahaan tetap mampu memenuhi kebutuhan operasional distribusi beras hingga saat ini. “Stok kemasan beras masih cukup untuk mendukung penyaluran dalam waktu dekat,” jelasnya.
“Kalau produk kita adalah layanan publik, berasnya untuk rakyat, bukan untuk jual. Alhamdulillah, stok kemasan beras masih tersedia,”
Bulog juga sedang menyiapkan strategi antisipatif untuk menghadapi potensi gangguan pasokan biji plastik di masa depan. Dengan langkah tersebut, distribusi beras kepada masyarakat diharapkan tetap tidak terganggu. Terkait program beras SPHP dengan ukuran kemasan 2 kilogram, Rizal menyatakan proses pengadaannya berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan sejak awal tahun anggaran.
Ia menambahkan kontrak bahan kemasan sudah ditandatangani di awal tahun, sehingga tidak terpengaruh oleh isu kelangkaan yang sedang berlangsung. “Program ini dijalankan sepanjang tahun, dan kontrak sudah diatur sebelumnya,” terang Rizal.
Target Penyaluran dan Perkembangan Program SPHP
Bulog ditugaskan menyalurkan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) sepanjang tahun 2026, dengan target 828 ribu ton. Program ini dilakukan dalam kemasan 5 kilogram, sementara desain kemasan 2 kilogram sedang dikembangkan untuk memudahkan akses masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Sebagai bagian dari tugasnya, Bulog juga bertanggung jawab menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dalam periode Februari dan Maret 2026. Setiap KPM mendapatkan beras 20 kilogram serta minyak goreng merek MinyaKita sebanyak 4 liter. Penyaluran sempat ditunda selama Ramadhan dan Idul Fitri untuk menjaga stabilitas harga, namun kembali dilakukan sejak akhir Maret dan diperkirakan selesai pada akhir April tahun ini.