Special Plan: Trump Ancam Jadikan Iran ‘Neraka’, Benar Berani Atau Ngomong Doang?
Trump Ancam Jadikan Iran ‘Neraka’, Benar Berani Atau Ngomong Doang?
Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengeluarkan ancaman tajam terhadap Iran, terutama terkait akses ke Selat Hormuz. Terbaru, ia mengancam akan menghancurkan Iran jika jalur perdagangan energi tersebut tidak dibuka sepenuhnya hingga Selasa, 7 April 2026, pukul 20.00 waktu pantai timur AS. Ancaman ini menjadi fokus utama ketegangan yang semakin memanas di wilayah tersebut.
Dalam rangkaian ultimatum, Trump tercatat memperbarui tenggat waktu berulang kali. Menurut postingan First Post, ancaman pertama dikeluarkan 23 Maret lalu, dengan pernyataan, “Buka Hormuz dalam 48 jam!”. Empat hari kemudian, 26 Maret, ia merubah janji tindakan tegas menjadi, “Buka Hormuz dalam 5 hari!”. Tak konsisten ini terus berlanjut, hingga 27 Maret saat Trump menyebut, “Buka Hormuz dalam 10 hari!”.
Ketika memasuki April, Trump kembali ke retorika awal dengan mengatakan, “Buka Hormuz dalam 48 jam!” pada 4 April. Tapi pada 5 April, ia mengubah batas waktu lagi menjadi, “Buka Hormuz pada hari Selasa!”. Puncak kegembiraan Trump terjadi 7 April, saat ia melontarkan kalimat, “Buka Selat keparat itu pada hari Selasa!” sebelum akhirnya menunda tenggat waktu hingga hari Rabu. Pola ini memicu kembali istilah “TACO” di bursa, singkatan untuk Trump Always Chickens Out atau Trump selalu takut dan mundur di saat-saat terakhir.
Kebijakan Trump dan Spekulasi Pasar
Pakar geopolitik dari New Delhi, Srijan Shukla, menilai perang dengan Iran memperlihatkan ketidakjelasan dalam asumsi pasar keuangan global. “Pengalaman sejak Trump menjabat membawa pelaku pasar untuk sangat mempercayai gagasan TACO,” tulis Shukla di Lowy Institute. Ia menjelaskan bahwa pola ini bukan pertama kali terjadi.
“Sekitar setahun lalu, saat Trump mengumumkan tarif Liberation Day, pasar sempat mengalami keruntuhan sejarah. Namun, ketika imbal hasil obligasi AS melonjak, ia menunda implementasinya selama 90 hari, membuat pasar kembali reli,” kata Shukla.
Pola tarik-ulur ini juga muncul dalam isu memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell atau rencana pengambilalihan Greenland. Saat ancaman muncul, pasar jatuh, tapi bersorak saat Trump berubah pendirian.
Shukla menambahkan bahwa ada kekosongan dalam analisis kebijakan luar negeri Trump. “Reaksi pasar kini menjadi indikator utama geopolitik. Setiap indikasi positif dari Trump bahwa ia ingin mengakhiri perang Iran menyebabkan reli pasar,” jelasnya.
Kebijakan Zero-Sum dan Senjata Nuklir
Lebih lanjut, Shukla mengutip esai Stephen Walt, The Predatory Hegemon, yang menyatakan Trump menganggap hubungan AS dengan musuh maupun sekutu sebagai permainan zero-sum. Hal ini diperkuat dengan tidak pernah digunakannya senjata nuklir AS, yang justru dijadikan alat negosiasi untuk membentuk norma baru.
“Menerapkan konsep ini pada kebijakan Trump menunjukkan evolusi dalam tradisi tidak digunakannya norma-norma dalam penerapan kekuatan AS,” tulis Shukla.
Shukla juga menyebut bahwa pasar menjadi bahan spekulasi yang cukup meskipun hampir pasti hanya kebisingan. “Setiap kali terjadi ‘transaksi TACO’, kembalinya kenormalan menyembunyikan pergeseran mendasar dalam kebijakan luar negeri Amerika,” tambahnya.