BMKG imbau masyarakat waspada cuaca ekstrem saat masa pancaroba

BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem Saat Masa Pancaroba

Cilacap, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan kepada masyarakat untuk lebih siaga terhadap cuaca ekstrem yang mungkin terjadi selama fase peralihan musim hujan ke musim kemarau. Teguh Wardoyo, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, menyatakan bahwa masa pancaroba sering mengakibatkan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi, dengan risiko terjadinya fenomena cuaca ekstrem.

Masa Pancaroba dan Potensi Cuaca Ekstrem

Masa pancaroba, lanjut Teguh, menjadi periode rawan terjadinya hujan deras yang bisa disertai petir dan angin kencang. “Kondisi cuaca yang tidak menentu selama masa transisi musim berpotensi memicu kejadian ekstrem,” ujarnya. Contoh nyata fenomena ini terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Banyumas pada Senin (6/4), menunjukkan pola hujan yang intens.

“Pada masa pancaroba, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” tambah Teguh.

Faktor Penyebab Cuaca Ekstrem

Berdasarkan data curah hujan 24 jam terakhir, beberapa daerah di Banyumas seperti Rempoah, Cikidang, dan Sumbang mengalami hujan lebat mencapai 84, 87, dan 78 milimeter, masing-masing. Teguh menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakstabilan atmosfer lokal serta pemanasan permukaan yang cukup kuat. “Kombinasi faktor ini mempercepat pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb),” katanya.

Langkah Persiapan dan Peringatan BMKG

Teguh menegaskan bahwa BMKG akan terus memperbarui prakiraan cuaca secara berkala. Ia meminta masyarakat tetap memantau informasi terkini dan menghindari aktivitas di luar ruangan saat cuaca memburuk. “Peningkatan kewaspadaan diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif dari cuaca ekstrem,” imbuhnya.

“Masyarakat juga diimbau untuk memastikan lingkungan sekitar aman, seperti memangkas dahan pohon yang rapuh dan memperbaiki saluran air,” tambah Teguh.

Lebih lanjut, Teguh memperingatkan nelayan serta pengguna jasa transportasi laut untuk siaga terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi tiba-tiba. “Kondisi atmosfer yang labil selama masa transisi memicu pertumbuhan awan konvektif secara aktif, sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat dalam durasi singkat,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *