Meeting Results: RI tuntut PBB selidiki serangan Israel terhadap prajurit TNI di UNIFIL

RI tuntut PBB selidiki serangan Israel terhadap prajurit TNI di UNIFIL

Jakarta – Perwakilan RI di PBB, Umar Hadi, meminta PBB melakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan terkait serangan Israel yang terjadi di Lebanon selatan, 29 dan 30 Maret 2026. Serangan tersebut menyebabkan kematian tiga prajurit Indonesia yang sedang bertugas dalam misi UNIFIL. Pemerintah juga mendorong Dewan Keamanan untuk memantau hasil penyelidikan secara ketat dan menuntut pertanggungjawaban hukum pelaku tanpa kekebalan, menurut Umar.

Ekspresi Kekerasan dan Keselamatan Pasukan Penjaga Perdamaian

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai situasi Timur Tengah, Selasa, Umar menyampaikan kecaman tajam terhadap serangan yang mengancam keselamatan pasukan UNIFIL. Ia menekankan perlunya henti agresi serta penghormatan terhadap hukum internasional untuk melindungi personel dan aset PBB. Keselamatan prajurit penjaga perdamaian, kata Umar, harus menjadi prioritas, termasuk melalui tindakan darurat yang memperkuat perlindungan di tengah eskalasi konflik.

“Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat Dewan Keamanan,” ujar Umar.

Indonesia bersama Prancis mengajukan pertemuan Dewan Keamanan sebagai bentuk komitmen jangka panjang terhadap operasi penjaga perdamaian PBB sejak 1957. Serangan Israel di Lebanon selatan, menurut Umar, memicu ketegangan yang melanggar kedaulatan negara tersebut. Peningkatan serangan terhadap UNIFIL dalam beberapa minggu terakhir dianggap sebagai upaya sistematis untuk melemahkan Resolusi 1701, yang memperkuat perlindungan pasukan perdamaian.

Korban dan Dukungan Internasional

Ketiga prajurit yang gugur termasuk Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33), Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan (25), dan Prajurit Kepala Fahrizal Rhomadhon (27). Fahrizal meninggal di pos UNIFIL Adchit Al Qusayr, sedangkan Zulmi dan Muhammad tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayyan. Selain korban jiwa, lima anggota lainnya mengalami cedera, yakni Kapten Sultan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Kadet Deni Rianto.

Umar mengecam serangan tersebut sebagai kehilangan besar bagi Indonesia, PBB, serta komunitas internasional yang menjunjung perdamaian. Ia juga mengapresiasi dukungan dari Dewan Keamanan dan lembaga global. Indonesia menuntut pemulangan jenazah yang cepat, aman, dan bermartabat, serta perawatan optimal bagi personel yang terluka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *