Main Agenda: Ini Penyebab IHSG Dibuka Melesat 2,75%
Ini Penyebab IHSG Dibuka Melesat 2,75%
Pada Rabu (8/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka sesi perdagangan dengan kenaikan tajam hingga 2,75%. Indeks naik ke level 7.162,41, atau meningkat 191 poin. Sebanyak 69 saham turun, 351 saham naik, dan 210 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 5554,24 miliar, dengan total 846 juta saham yang diperdagangkan dalam 42.676 transaksi. Kapitalisasi pasar juga naik menjadi Rp 12.573 triliun.
Penyebab Kenaikan IHSG
Kenaikan signifikan IHSG hari ini terutama dipicu oleh gencatan senjata antara AS dan Iran di Timur Tengah, yang memberikan harapan kecil dan kepastian bagi investor. Selain itu, keputusan penyedia layanan indeks FTSE untuk mempertahankan rating pasar saham Indonesia juga menjadi faktor positif tambahan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa rencana serangan terhadap infrastruktur Iran telah ditangguhkan selama dua minggu, dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz.
Sektor-sektor yang sebelumnya menjadi penopang investor, seperti migas dan batu bara, tercatat melemah hari ini. Sementara itu, sektor perdagangan secara umum menguat, dengan kenaikan paling tajam dari bidang infrastruktur, barang baku, dan keuangan.
Emiten besar menjadi pendorong utama kenaikan IHSG, termasuk perusahaan-perusahaan konglomerat yang juga mengalami penguatan signifikan. Saham utama seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bursa Efek Indonesia (BREN), dan Astra International (ASII) berkontribusi terhadap kenaikan. Di sisi lain, saham yang melemah meliputi Astra Indo (AADI), Medco Energy (MEDC), Indocement (ITMG), AKRA (AKRA), dan Pertamina (PTBA).
Reaksi Pasar Asia-Pasifik
Pasar saham Asia-Pasifik bergerak naik pada Rabu (8/4/2026) setelah Trump mengumumkan kesepakatan menunda serangan terhadap infrastruktur Iran selama dua minggu. Langkah ini diambil dengan syarat Iran membuka jalur vital Selat Hormuz secara aman.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui platform X menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran akan menghentikan operasi defensif selama dua minggu ke depan, dengan koordinasi militer untuk memastikan jalur aman.
Penurunan harga minyak mentah WTI AS lebih dari 16% ke US$94,23 per barel mencerminkan meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,3%, Kosdaq naik 3,4%, Nikkei 225 menguat 4,5%, dan Topix naik 3,2%. S&P/ASX 200 Australia juga mengalami kenaikan 2,7%, menunjukkan sentimen positif yang menyebar luas.
Pasar Hong Kong diperkirakan ikut menguat setelah libur, dengan kontrak berjangka Hang Seng mencapai level 25.233 dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.116,53. Ini mencerminkan optimisme investor terhadap stabilitas geopolitik jangka pendek.
Peluang Kebijakan Moneter
Manajer portofolio Thornburg Investments, Josh Rubin, menyatakan bahwa penurunan harga energi berpotensi menekan inflasi global. Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks S&P 500 naik tipis 0,08% ke 6.616,85, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,10% ke 22.017,85. Dow Jones Industrial Average justru turun 0,18% atau 85,42 poin ke 46.584,46.
Para investor juga memperhatikan rilis risalah rapat Federal Reserve atau FOMC Minutes, yang akan memberikan gambaran mendalam mengenai pandangan pejabat bank sentral AS terhadap ekonomi, inflasi, dan kebijakan ke depan. Selain itu, data inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis oleh Bureau of Economic Analysis akan menjadi fokus utama pasar.