New Policy: Pakar paparkan tingkat kesesuaian minat dengan cita-cita pelajar SMA

Pakar Paparkan Tingkat Kesesuaian Minat dengan Cita-Cita Pelajar SMA

Analisis tentang Keterpaduan Minat dan Harapan Karier Siswa SMA

Di Yogyakarta, Prof. Rahma Widyana, psikolog dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia memiliki keterpaduan antara jenis minat dan harapan karier yang tergolong sedang atau moderat. “Kesesuaian minat dengan impian karier mereka tidak begitu tinggi,” ujarnya saat pengukuhan guru besar bidang Psikologi Pendidikan di Fakultas Psikologi UMBY.

Dalam risetnya, Rahma meneliti seberapa relevan teori pilihan karier John Holland—yang membagi minat menjadi enam kategori: realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising, dan konvensional—dalam mengukur keterpaduan antara minat siswa dan tujuan mereka. Menurut dia, banyak remaja memilih bidang tertentu karena pengaruh keluarga, bukan karena keinginan pribadi atau potensi yang sesuai.

Penelitian Berbasis Teori John Holland

Rahma menjelaskan bahwa beberapa siswa SMA lebih tertarik pada mimpi karier yang dianggap bergengsi atau terkait dengan status sosial. “Misalnya, ada keinginan untuk memberikan kontribusi di bidang tertentu, tetapi pilihan tersebut tidak sesuai dengan tipe minat mereka,” katanya. Ia menekankan bahwa keputusan yang tidak sejalan dengan minat dapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam studi atau pekerjaan.

“Berdasarkan tingkat kongruensinya, kesesuaian antara tipe minat dengan cita-cita sebagian besar anak Indonesia berada pada kategori sedang atau moderat. Jadi, tingkat kesesuaiannya tidak terlalu tinggi,”

Menurut Rahma, kecenderungan ini menciptakan masalah sistemik di dunia pendidikan. Dampaknya, siswa sering mengalami kesulitan memilih jurusan yang tepat, sehingga mengakibatkan perubahan arah di tengah proses belajar atau kesulitan mengejar potensi maksimal.

Program Pendampingan Berbasis Minat

Sebagai upaya mengubah pola pikir, Rahma telah mengelola program pendampingan bakat dan minat selama lima tahun terakhir. Program ini melibatkan konseling bagi orang tua serta bimbingan untuk memastikan putra-putrinya mengejar bidang yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa pengaruh keluarga sering kali mengalahkan keinginan individu. “Banyak orang tua memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan minat anak, sehingga mereka terjebak dalam pilihan yang tidak sesuai,” tambah Rahma.

Dampak dari Ketidaksesuaian Minat dengan Jurusan

Menurut Rahma, ketidaksesuaian antara minat dan jurusan mengakibatkan pengembangan karier yang kurang optimal. “Ketika memasuki dunia kerja, mereka mungkin berpaling ke bidang lain yang lebih sesuai dengan passion mereka,” ujarnya.

“Orang tua seharusnya tidak egois dengan hanya mengedepankan keinginan pribadi pada anak nantinya. Tapi sebaliknya, perlu memberikan alternatif yang sesuai keinginan dan potensi anak, sehingga anak merasa nyaman dan meyakini bahwa bidang tersebut adalah passion-nya,”

Rahma berharap langkah-langkah seperti ini dapat membantu siswa mencapai prestasi terbaik mereka, bukan hanya karena faktor eksternal seperti prestise atau keuntungan finansial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *