Key Strategy: IHSG Masih Tertekan, Ini Rekomendasi Saham yang Patut Dilirik
IHSG Masih Tertekan, Ini Rekomendasi Saham yang Patut Dilirik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penurunan 0,26% hingga 6.971,03 pada perdagangan Selasa (7/4). Meski demikian, sejumlah saham masih mencatat kenaikan signifikan, seperti BYAN yang melonjak 9,23%, MEGA melesat 24,72%, dan BREN naik 6,65%. Sebaliknya, saham-saham besar menjadi tekanan utama, termasuk BBRI turun 2,42%, ASII terkoreksi 3,28%, serta BMRI melemah 2,17%.
Dalam aliran dana, investor asing melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,78 triliun, baik di pasar reguler maupun pasar offshore. Hal ini tercermin dari pelemahan indeks ETF EIDO sebesar 0,91% dan penurunan MSCI Indonesia sebesar 0,77%. Selain itu, keputusan Presiden AS Donald Trump menunda serangan terhadap Iran selama dua minggu memengaruhi sentimen pasar, menyebabkan penurunan harga minyak dunia.
Secara sektoral, mayoritas indeks berada di zona merah. Delapan dari 11 sektor ditutup melemah, dengan sektor industri mencatat penurunan tertinggi sebesar 2,63%. Sementara sektor infrastruktur menjadi yang paling kuat, dengan kenaikan 0,76%. Di pasar global, indeks saham Amerika Serikat bergerak tidak seragam. Dow Jones turun 0,18% ke level 46.584, S&P 500 sedikit naik 0,08% ke 6.616, dan Nasdaq menguat 0,10% ke 22.017.
Rekomendasi Saham Hari Ini
BREN: Rekomendasi beli dengan target harga (TP) 4750-5000 dan stop loss (SL) 4330.
BRPT: Beli dengan TP 1490-1515 dan SL 1365.
PTRO: Beli dengan TP 4650-4770 dan SL 4250.
ARCI: Beli dengan TP 1470-1500 dan SL 1350.
JPFA: Beli dengan TP 2500-2560 dan SL 2300.
Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
Nippon Indosari Corpindo (ROTI) akan membagikan dividen Rp450 miliar untuk tahun buku 2025. Dividen ini berasal dari laba bersih Rp256,44 miliar dan tambahan dari laba ditahan sebesar Rp193,55 miliar. Investor akan menerima dividen Rp80,04 per saham, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya Rp79,44 per saham. Jadwal cum dividen di pasar reguler ditetapkan 15 April, sedangkan pembayaran dilakukan 24 April.
Kebijakan global terkini menunjukkan FTSE Russell menunda evaluasi indeks saham Indonesia yang sebelumnya dijadwalkan Maret. Status Indonesia sebagai secondary emerging market tetap berlaku. FTSE juga mengatakan akan terus memantau reformasi pasar modal, seperti transparansi kepemilikan saham, peningkatan basis investor, aturan free float minimum, dan peningkatan sistem pengawasan oleh regulator. Evaluasi terbaru diumumkan pada Juni 2026. Saat ini, belum ada emiten yang masuk dalam daftar pemantauan.