Latest Update: Harga Minyak Rontok 14 Persen, Tinggalkan Level US$100 per Barel

Harga Minyak Turun Tajam, Tinggalkan Level US$100 per Barel

Pasca pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang gencatan senjata sementara dengan Iran, harga minyak global mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (8/4). Harga minyak Brent tercatat merosot US$14,84 atau 13,6 persen menjadi US$94,43 per barel, sementara WTI turun lebih dalam US$16,13 atau 14,3 persen ke US$96,82 per barel.

Pasang surut ini terjadi karena Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang diberlakukannya bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Menurut Saul Kavonic dari MST Marquee, meski kesepakatan berhasil dicapai, ancaman terhadap Selat Hormuz dari Iran tetap menjadi faktor risiko yang diwaspadai pasar.

“Kesepakatan damai ini bisa menjadi awal yang baik, tapi Iran mungkin masih sering mengancam Selat Hormuz, dan pasar akan terus memperhitungkan risiko lebih tinggi terhadap jalur pengiriman energi,” kata Saul seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya, konflik antara AS dan Iran memicu kenaikan harga minyak terbesar sepanjang sejarah pada bulan Maret, dengan lonjakan lebih dari 50 persen. Trump mengklaim pihaknya menerima proposal Iran dan merasa kedua belah pihak semakin dekat untuk mencapai kesepakatan jangka panjang.

Tapi Tony Sycamore dari IG menegaskan ada banyak ketidakpastian yang belum terselesaikan. “Ini awal yang positif, tapi masih ada banyak hal yang perlu dibicarakan,” ujarnya.

Sementara itu, harga WTI tetap lebih tinggi dibanding Brent, kondisi yang tidak biasa karena kontrak pengiriman WTI untuk Mei lebih dekat dibanding Brent untuk Juni, mencerminkan permintaan jangka pendek yang lebih tinggi. Meredanya ketegangan geopolitik mendorong aksi jual di pasar energi, yang menyebabkan koreksi tajam pada harga minyak awal perdagangan.

Kesepakatan ini diusulkan sebagai langkah menuju perdamaian jangka panjang. Trump mengatakan dalam platform Truth Social bahwa gencatan senjata berlaku dua arah, karena tujuan militer telah tercapai. Ia juga berharap proposal Iran bisa menjadi dasar negosiasi lanjutan, dengan optimisme kesepakatan akhir bisa selesai dalam masa jeda dua minggu.

Di sisi lain, televisi Iran menyebut kesepakatan ini sebagai “kemunduran yang memalukan” bagi AS, setelah pihaknya menilai Trump telah menerima syarat yang diajukan Teheran. Kesepakatan ini didasari oleh mediasi Pakistan dan melibatkan Israel, yang setuju untuk menghentikan operasi militer sementara terhadap Iran. Namun, tak lama setelah pengumuman, militer Israel melaporkan peluncuran rudal dari Iran.

Pasca ancaman Trump terhadap infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka, pasar energi sempat guncang dan harga minyak melonjak tajam. Dalam enam pekan konflik, lebih dari 5.000 korban tewas di sebelas negara, termasuk lebih dari 1.600 warga sipil di Iran, berdasarkan data pemerintah dan organisasi hak asasi manusia. Penutupan Selat Hormuz sebelumnya memperketat pasokan energi global dan menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi hingga resesi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *