Makin Banyak Pengusaha Merasa Bisnisnya Menurun – Mulai Tak Optimistis
Makin Banyak Pengusaha Merasa Bisnisnya Menurun, Mulai Tak Optimistis
Aktivitas usaha di sektor industri pada bulan Maret 2026 mengalami penurunan kecepatan. Sejumlah pelaku bisnis mulai merasakan penurunan kinerja setelah sebelumnya dihiasi momentum permintaan awal tahun. Febri Hendri Antoni Arief, juru bicara Kementerian Perindustrian, mengungkapkan kondisi ini mencerminkan perubahan persepsi pelaku usaha.
Perubahan Persepsi dan Data IKI
Dalam laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis oleh Kemenperin, Febri menyatakan bahwa secara umum aktivitas usaha mengalami penurunan. Menurutnya, 30,2% industri melaporkan kinerja usaha yang meningkat, turun 3,1% dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, 43,5% menyatakan kondisi usaha tetap stabil, sedangkan 26,3% mengalami penurunan, naik 3,9% dibandingkan periode sebelumnya.
“Tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan menurun dibandingkan beberapa bulan terakhir yaitu sebesar 71,8%. Angka ini melambat 1,7% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya. Sebanyak 21,4% pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil, turun 1,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya. Persentase pesimisme naik 2,9% menjadi 6,8%,” katanya.
Penyesuaian Produksi dan Faktor Musiman
Dari sisi produksi, industri mulai menyesuaikan output setelah lonjakan di awal tahun. Penurunan ini terlihat dari pergerakan IKI yang melemah, mencapai 51,86 atau turun 2,16 poin dibandingkan Februari 2026 sebesar 54,02. Febri menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk faktor musiman.
“Turunnya IKI sebanyak 2,16 poin dibandingkan Februari 2026 dikarenakan kombinasi faktor-faktor tertentu, di antaranya faktor musiman setelah lewatnya hari raya seperti Lebaran dan Imlek, yang menyebabkan penurunan sedikit produksi,” ungkapnya.
Adanya pembatasan logistik selama masa libur panjang juga memperlambat perputaran barang di pasar. Febri menambahkan, sebagian industri menurunkan produksinya pada Maret karena masih banyak stok barang yang tertahan di gudang, belum terdistribusi ke distributor atau pasar.
“Beberapa industri menurunkan produksinya pada Maret dibanding Februari karena adanya pembatasan kendaraan logistik selama 16 hari sebelum dan sesudah Lebaran, sehingga memperlambat distribusi,” katanya.
Selain itu, penurunan permintaan domestik memperkuat perlambatan aktivitas industri. Febri menjelaskan, ada faktor lain yang menyebabkan industri mengurangi produksinya, seperti melunturnya demand di pasar dalam beberapa bulan terakhir.
Pengaruh Dinamika Global
Di tengah kondisi tersebut, dinamika global juga memberi tekanan, meski belum merata ke seluruh sektor. Febri menyoroti bahwa krisis logistik energi di Timur Tengah masih berdampak terbatas pada subsektor tertentu, terutama yang mengandalkan bahan baku kimia atau petrokimia.
“Terkait krisis logistik energi di Timur Tengah, dampaknya terhadap industri saat ini masih fokus pada subsektor tertentu, khususnya yang menggunakan bahan baku kimia atau petrokimia,” tambah Febri.
Beberapa pelaku usaha bahkan telah mempersiapkan diri sejak awal tahun dengan meningkatkan produksi di bulan Januari dan Februari, sebelum akhirnya menahan output di Maret untuk mengatasi keterlambatan distribusi.