Official Announcement: Jualan HP Hancur-hancuran, Nasib Pedagang Memprihatinkan
Jualan HP Hancur-hancuran, Nasib Pedagang Memprihatinkan
Kenaikan harga ponsel telah mengguncang industri penjualan handphone, termasuk di Jakarta. Penyesuaian tarif mulai berlangsung sejak akhir tahun lalu, dipicu oleh kelangkaan chip yang diakibatkan permintaan tinggi untuk teknologi AI. Seorang pedagang di ITC Kuningan menyebutkan penurunan penjualan yang signifikan selama dua bulan terakhir. Bahkan, volume transaksi turun hingga 50% sejak awal tahun ini.
“Ngaruh banget, saya sudah dua bulan hancur-hancuran penjualannya,” kata penjual tersebut kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/4/2026).
Masih di Jakarta, Lebaran yang biasanya menjadi masa penjualan tinggi tak lagi memberikan dampak yang sama. Dalam satu tahun terakhir, penjualan ponsel hanya mencapai sekitar 30 unit, dibandingkan 40 unit sebelumnya. Antrian pembelian di banyak toko juga berkurang drastis.
Penurunan ini terjadi hampir di seluruh pasar. Seorang penjual lain menjelaskan bahwa ia sudah memberitahu pembeli sejak awal mengenai kenaikan harga. “Kita kasih knowledge saja, semua harga naik. Di mana-mana harga naik. Kalau nanti saja deh, bakal naik lagi karena beberapa toko sampai dua kali kenaikannya,” tuturnya.
Krisis RAM Makin Parah, China Mulai Nyerah
Dampak krisis chip global terasa jelas pada segmen ponsel murah. Banyak produsen asal Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo melakukan penyesuaian proyeksi pengapalan. Xiaomi dan Oppo menurunkan produksi lebih dari 20%, sementara vivo mengalami pengurangan hampir 15%. Induk perusahaan Tecno, Infinix, dan Itel, Transsion, juga memperkirakan penurunan pengiriman hingga 70 juta unit.
Menurut Counterpoint, kenaikan harga chip memori berdampak pada seluruh industri. Biaya komponen untuk ponsel low-end meningkat 25% sejak awal 2025, sementara kelas menengah dan atas mengalami kenaikan 15% dan 10%.
Laporan Techwire Asia menyoroti kelangkaan DRAM dan NAND yang memaksa produsen menaikkan harga atau mengurangi fitur standar. Pasar Asia-Pasifik, khususnya, menjadi wilayah yang paling terkena, karena ponsel murah mendominasi segmen tersebut. Harga chip diperkirakan akan terus naik hingga 40% di Q2-2026, menambah biaya produksi sebesar 8%-15%.