Key Strategy: Dolar AS Ditendang di Mana-Mana: Won, Yen – Rupiah Berjaya

Dolar AS Ditendang di Mana-Mana: Won, Yen – Rupiah Berjaya

Jakarta, pada perdagangan pagi hari ini, Rabu (8/4/2026), hampir semua mata uang Asia mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan indeks dolar AS (DXY) terjadi akibat menurunnya ketegangan di Timur Tengah. Dari 11 mata uang yang dipantau, hanya satu yang melemah, sementara sepuluh lainnya menguat.

Menurut data Refinitiv, per pukul 09.15 WIB, won Korea Selatan menjadi yang terkuat dengan kenaikan 1,22% ke level KRW 1.478,4/US$. Baht Thailand mengikuti dengan peningkatan 1,2% ke THB 32,07/US$, sementara peso Filipina naik 1,14% ke PHP 59,51/US$. Ringgit Malaysia juga menguat 0,97% ke MYR 3,98/US$, serta yen Jepang naik 0,79% ke JPY 158,33/US$.

Dolar Singapura mengalami kenaikan 0,57% ke SGD 1,27/US$, sedangkan rupiah Indonesia mencatat penguatan 0,56% ke Rp16.995/US$—hampir kembali ke level psikologis Rp17.000/US$. Tren ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir sesi perdagangan hari ini.

“Langkah ini merupakan gencatan senjata dua arah,” ujar Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan terbaru. Ia menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz.

Kabar ini memberi dampak positif pada pasar, karena mengurangi kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi global. Trump juga menyebut AS menerima proposal 10 poin dari Iran yang dianggapnya bisa menjadi dasar perundingan. Di sisi lain, Iran dan Israel disebut sepakat mengizinkan peningkatan jalur strategis selama dua minggu.

Pelemahan dolar AS membuat DXY mencapai level terendah dalam dua pekan terakhir, yaitu 98,914. Perubahan ini selaras dengan membaiknya sentimen risiko di pasar global. Dengan ketegangan geopolitik mereda, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman turun, sehingga memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *