Latest Program: Pengusaha Ungkap ‘Malapetaka’ Bisnis Mal Usai Lebaran
Pengusaha Ungkap ‘Malapetaka’ Bisnis Mal Usai Lebaran
Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada Senin (30/3/2026), Alphonzus Widjaja, ketua umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), mengungkapkan ketakutan para pengusaha pusat perbelanjaan terkait penurunan aktivitas usaha setelah libur Lebaran Idul Fitri 1447 H atau 2026. Menurutnya, masa sepi atau periode penjualan rendah selalu terjadi setelah hari raya tersebut, yang menjadi fenomena tahunan bagi industri ritel.
“Seperti biasa, tren penjualan ritel di Indonesia akan memasuki masa penjualan rendah setelah Lebaran Idul Fitri, termasuk pusat perbelanjaan,” ujarnya.
Alphonzus menambahkan bahwa kuartal kedua dan ketiga tahun ini berpotensi menjadi periode penjualan rendah yang lebih panjang. Hal ini disebabkan oleh jarak antar hari raya yang terpaut cukup jauh, sehingga memberi tekanan tambahan pada bisnis mall. “Kuartal kedua dan ketiga akan menjadi low season yang lebih panjang dan berpotensi mengalami tekanan lebih besar,” jelasnya.
“Tekanan ini bisa lebih dalam akibat dampak perang di Timur Tengah, yang membuat kuartal kedua dan ketiga berpotensi menjadi masa penjualan rendah yang lebih lama dan signifikan,” lanjutnya.
Untuk mengurangi risiko ketergantungan pada kondisi global yang tidak menentu, Alphonzus menyarankan pemerintah fokus pada pengembangan perdagangan dalam negeri. Ia menekankan pentingnya mendorong konsumsi lokal melalui penggunaan produk dalam negeri dan pengintensifan belanja nasional. “Pemerintah harus memprioritaskan perdagangan dalam negeri agar dampak global bisa diminimalkan,” terangnya.
Menurutnya, kebijakan bekerja di rumah (WFH) perlu disertai dengan program stimulus atau insentif lainnya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi selama masa penjualan rendah. “Program WFH harus diimbangi dengan stimulus atau insentif, terutama untuk meningkatkan konsumsi dalam negeri,” tambahnya.