Topics Covered: BI Bakal Gencar Terbitkan SRBI Demi Amankan Rupiah

BI Berencana Memperbesar Penerbitan SRBI Untuk Stabilkan Rupiah

Menyusul dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakstabilan pasar keuangan global, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan rencana untuk meningkatkan kembali volume penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tahun ini. Langkah ini bertujuan mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah serta mengendalikan aliran modal asing yang keluar. “Karena itu, pada 2026 kita akan kembali menaikkan SRBI agar bisa seimbang dalam upaya mempertahankan kurs, intervensi, dan menghindari outflow yang berlebihan,” jelas Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Tren Penerbitan SRBI Tahun 2025

Sebelumnya, BI telah menurunkan jumlah SRBI sebesar Rp 192,64 triliun pada 2025, dari Rp 923,53 triliun di akhir Desember 2024 menjadi Rp 730,89 triliun di akhir Desember 2025. Kebijakan ini diambil untuk mendorong bank-bank dalam menyalurkan kredit, mengingat likuiditas pasar mengalami peningkatan. Namun, sejak awal tahun 2026, penerbitan SRBI mulai mengalami kenaikan, dengan angka mencapai Rp 755 triliun pada Januari dan naik ke Rp 837 triliun di Februari. Per 30 Maret 2026, volume tersebut berada di posisi Rp 831 triliun.

Peningkatan Volume SRBI di 2026

Kebijakan BI untuk menaikkan SRBI bertujuan menyerap likuiditas dari lembaga keuangan, sehingga bisa memperkuat cadangan devisa. “Kami perlu melakukan rekalibrasi SRBI tahun lalu untuk menarik inflow, tetapi tetap menjaga likuiditas yang cukup,” tegas Perry. Ia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan kebijakan BI yang kini lebih fokus pada stabilitas kurs, dengan ruang penurunan suku bunga yang makin terbatas.

Analisis Kebijakan SRBI

Menurut Perry, penurunan SRBI pada tahun lalu adalah bagian dari upaya mempercepat alokasi kredit. Namun, dengan meningkatkan kembali penerbitannya, BI ingin menjaga keseimbangan antara pengelolaan likuiditas dan stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa M0 (uang beredar) tetap dipertahankan dalam angka dua digit, mencapai 13,3% di akhir Maret 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *