New Policy: Ahli: Label Nutri-Level Bisa Efektif tapi Tak Cukup Tanpa Edukasi

Ahli: Label Nutri-Level Bisa Efektif tapi Tak Cukup Tanpa Edukasi

Pemerintah tengah merancang label gizi inovatif bernama Nutri-Level yang akan terpasang di bagian depan kemasan makanan dan minuman. Sistem ini dirancang agar konsumen bisa menilai kualitas nutrisi produk hanya dengan memperhatikan simbol warna dan notasi alfabetik, tanpa perlu membaca tabel detail.

“Label Nutri-Level memberikan panduan sederhana untuk memilih makanan dan minuman yang lebih sehat. Produsen juga akan berusaha agar produknya tidak mendapat label merah dengan mengurangi kadar lemak, gula, dan garam,”

kata Dr. Johanes Chandrawinata kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).

Kebijakan ini diharapkan mendorong industri pangan untuk beradaptasi dan menghasilkan produk yang lebih ramah kesehatan. Namun, menurut Johanes, keberhasilannya bergantung pada edukasi yang cukup agar masyarakat tidak salah paham dalam memaknai simbol tersebut.

“Penerapan Nutri-Level harus diiringi kampanye nasional tentang pentingnya mengurangi asupan gula, garam, dan lemak untuk menurunkan risiko penyakit,”

tambahnya.

Dari kategori A (hijau tua) hingga D (merah), produk diatur berdasarkan jumlah gula, garam, dan lemak, dengan kategori A menunjukkan nilai terendah dan D mengharuskan batasan konsumsi. Meski konsep ini terlihat sederhana, muncul pertanyaan apakah label warna benar-benar memadai untuk mengubah pola makan masyarakat.

“Risiko masyarakat mengonsumsi berlebihan makanan kategori hijau mungkin terjadi, tapi produk hijau tidak banyak dan kebanyakan tidak diminati,”

jelas Johanes.

Label warna seharusnya menjadi pedoman awal, bukan satu-satunya acuan.

“Edukasi tambahan sangat diperlukan agar konsumen tidak hanya melihat simbol, tetapi benar-benar memahami komposisi produk yang dikonsumsi,”

tegasnya. Akurasi informasi pada kemasan menjadi tanggung jawab BPOM, dan jika tidak tepat, risiko penyesatan dapat terjadi.

Johanes juga menekankan bahwa Nutri-Level bukan solusi tunggal. Sistem ini bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran konsumen, tetapi perlu didukung perubahan gaya hidup secara menyeluruh, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan sehari-hari. Kolaborasi dengan lembaga kesehatan seperti PDGKI, PERKI, dan yayasan kesehatan dinilai penting untuk memperkuat upaya edukasi publik.

Contohnya, makanan seperti beras cokelat atau beras hitam memiliki nilai nutrisi lebih baik tetapi belum tentu populer di masyarakat. Dengan label ini, konsumen diingatkan untuk tidak hanya bergantung pada warna, tetapi juga membaca detail kandungan gizi. Efektivitas Nutri-Level akan optimal jika masyarakat mampu menggabungkan informasi visual dengan pemahaman mendalam tentang nutrisi yang diperlukan tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *