Main Agenda: Perang Jadi “Nafas” Netanyahu, Kursi Kekuasaan Masih Terancam

Perang Jadi Titik Balik Netanyahu, Kekuasaan Masih Tergantung

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kini berada dalam situasi politik yang kompleks. Meski mendapat dukungan masyarakat untuk melanjutkan konflik, kekuatannya di dalam koalisi nasional belum memenuhi syarat untuk memastikan kemenangan dalam pemilu mendatang. Tantangan utama terletak pada stabilitas koalisi yang terus-menerus terancam oleh perbedaan visi politik.

Dukungan Publik Mulai Mengalami Penurunan

Survei terbaru oleh Israel Democracy Institute menunjukkan 68% penduduk Israel masih mendukung perang yang sedang berlangsung, meskipun angka ini mengalami penurunan dari 81% di awal konflik. Perubahan ini mencerminkan adanya kelelahan masyarakat, meski mayoritas tetap memandang perang sebagai keharusan strategis. Meski demikian, kekuatan dukungan publik masih menjadi fondasi utama bagi Netanyahu.

Pencapaian Politik dalam Masa Jabatan

Dalam upayanya memperkuat posisi, Netanyahu berhasil menyelesaikan pengesahan anggaran nasional pada akhir Maret. Prestasi ini langka bagi pemerintah Israel menjelang pemilu, sekaligus membantu memperpanjang masa jabatan parlemen empat tahun. Pencapaian ini datang setelah serangan 7 Oktober 2023, yang dianggap sebagai kegagalan keamanan terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Fragmentasi Oposisi Sebagai Peluang

Koalisi pemerintah Netanyahu tetap berada di bawah batas mayoritas parlemen, dengan peluang terbatas untuk membentuk pemerintahan. Namun, kenyataan bahwa oposisi terpecah menjadi beberapa kelompok berbeda memberikan ruang bagi kemungkinan koalisi yang lebih fleksibel. Sejumlah partai oposisi yang sebelumnya memilih untuk bergabung dengan pemerintah pada 2024 kini menghadapi kesulitan mengatur perbedaan ideologi.

Persaingan dalam Sistem Proporsional

Dalam sistem pemilu berbasis proporsional, kemampuan menggabungkan partai-partai berbeda sering kali lebih kritis daripada kemenangan suara. Netanyahu terbukti mahir dalam ini, dengan menggandeng partai ekstrem kanan dan ultra-religius yang memiliki keselarasan kebijakan. Berbeda dengan oposisi yang terdiri dari berbagai arah politik, seperti nasionalis hingga komunis Arab, mereka sulit mencapai kesepakatan.

Kemenangan dalam perang tetap menjadi penentu utama nasib Netanyahu. Jika Israel memperoleh kemenangan jelas, popularitasnya bisa meningkat tajam. Sebaliknya, jika konflik berakhir tanpa hasil jelas atau justru memperkuat musuh seperti Iran, dampaknya bisa merugikan secara elektoral. Berbeda dengan pemimpin seperti Donald Trump yang bisa memutuskan akhir perang berdasarkan kebutuhan politik, Netanyahu sangat bergantung pada realitas di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *