New Policy: Ekonom: Industri perlu matangkan strategi sikapi dinamika harga energi
Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, dunia industri perlu mematangkan strategi terkait produksi dan distribusi produk dalam menyikapi dinamika harga komoditas energi global imbas situasi geopolitik saat ini. Faisal, saat dihubungi di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa secara umum, kenaikan harga komoditas energi berdampak signifikan pada peningkatan biaya operasional, biaya produksi dan inflasi di tingkat produsen. “Yang mana ini bisa berdampak terhadap peningkatan harga yang dijual atau produk olahan yang artinya ditransmisikan ke dalam harga di tingkat konsumen,” kata Faisal.
Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, penting bagi industri untuk melihat bagaimana keterbatasan daya beli masyarakat. “Sejauh ini produsen putar strategi dengan downsizing atau mengecilkan ukuran dan kualitas agar permintaan tidak terganggu. Konsumen tidak siap hadapi penyesuaian harga di ritel.
Tapi strategi downsizing tentu ada batasnya. Kenaikan harga bahan baku dan kemasan plastik yang persisten naik tetap diteruskan ke konsumen,” kata Bhima. Ia mengatakan, saat ini industri sudah cukup terdampak dari biaya logistik impor menyusul kapal pengangkut yang memakai referensi minyak internasional.
“ Imported inflation dari sisi produsen akan diteruskan ke konsumen akhir. Contohnya di sektor makanan minuman,” ujar dia. Lebih lanjut, Bhima memprediksi penyesuaian harga jual karena tekanan biaya produksi terus berlangsung dalam 2-3 bulan ke depan, walaupun eskalasi dari perang mulai mereda.
Untuk itu, ia memberikan sejumlah rekomendasi bagi pemangku kepentingan termasuk pemerintah untuk menghadapi dampak dari dinamika harga komoditas energi global saat ini. “Rekomendasinya ada empat. Pertama, segera turunkan tarif PPN jadi 9 persen dari 11 persen sebagai stimulus ke konsumen dan pelaku usaha.
Lalu, memastikan anggaran subsidi energi mencukupi sehingga inflasi energi bisa dicegah. Ini butuh realokasi anggaran dari program yang belum urgen,” kata Bhima. “Ketiga, bantu realisasikan investasi di sektor industri baik yang dilakukan Danantara dan swasta, serta menjaga stabilitas kurs agar tidak ada gejolak bahan baku impor berlebihan,” ujarnya menambahkan.