New Policy: Pedagang pasar akui sistem QRIS permudah transaksi jual beli
Jakarta – Pedagang pasar tradisional mengakui sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dapat mempermudah transaksi jual beli. "Dengan era sekarang, saya melihat ada kemajuan zaman, dan sistem pembayaran QRIS ini sangat membantu aktivitas dagang kita," kata seorang pedagang kue kering Aimul Chairi di kiosnya di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, Rabu. Menurut dia, para pelaku usaha harus mulai beradaptasi dengan perubahan pola transaksi masyarakat yang kini cenderung non-tunai.
Apalagi, tren konsumen yang semakin jarang membawa uang tunai membuat sistem pembayaran digital menjadi solusi yang praktis. 'Dengan era sekarang, kemajuan sekarang sangat membantu. Karena pembeli itu rata-rata sudah jarang menggunakan atau membawa uang tunai.
Jadi dia belanjanya QRIS, scan, ya rata-rata sih sudah kebanyakan begitu," jelas Aimul. Selain itu, penggunaan QRIS tidak hanya memudahkan pembeli, tetapi juga memberikan kemudahan bagi pedagang dalam menerima pembayaran secara cepat dan efisien. Aimul sendiri mengaku telah menggunakan QRIS selama hampir tiga tahun.
Bahkan, sebelum program digitalisasi semakin masif didorong, dirinya sudah lebih dulu menggunakan metode pembayaran tersebut. "Hampir tiga tahun kami pakai. Walaupun akhir-akhir ini digalakkan, kita sudah hampir tiga tahun," ucap Aimul.
Terkait kendala, Aimul menyebut pada awal penggunaan sempat terjadi beberapa kesalahan teknis, seperti pembayaran yang diklaim berhasil oleh pembeli namun belum masuk ke sistem. Namun, seiring waktu, masalah tersebut kini hampir tidak pernah terjadi lagi. Untuk memastikan transaksi berjalan aman, perangkat pembayaran QRIS yang digunakan juga dilengkapi notifikasi suara sebagai penanda bahwa transaksi telah berhasil dilakukan.
Meski demikian, ia mengakui masih ada sebagian pembeli yang belum familiar dengan teknologi digital, terutama dari kalangan usia lanjut. Kelompok usia 50 hingga 60 tahun ke atas masih kerap mengalami kesulitan saat menggunakan QRIS. "Masih ada yang belum melek teknologi, terutama yang usia 50 sampai 60 tahun ke atas.
Biasanya mereka minta bantuan kita," ujar Aimul. Namun demikian, dia memastikan bahwa transaksi tunai tetap dilayani untuk mengakomodasi seluruh lapisan pembeli. Aimul sendiri telah menjalankan usaha penjualan kue kering, snack, dan aneka camilan selama 16 tahun di Pasar Palmeriam.
Dalam tiga tahun terakhir, dia merasakan penggunaan QRIS semakin stabil dan diterima luas oleh pelanggan. Sementara itu, salah satu pembeli yakni Salsa (26) mengaku, penggunaan QRIS membuat aktivitas belanjanya menjadi lebih nyaman. Salsa mengaku tidak lagi khawatir kekurangan uang kecil atau harus menunggu kembalian dari pedagang.
"Sekarang lebih enak, tinggal scan saja. Tidak perlu bawa uang cash banyak, apalagi kalau belanja sedikit-sedikit," kata Salsa. Hal serupa juga disampaikan pembeli lainnya yang menilai QRIS membantu mengatur pengeluaran.
Dengan pembayaran digital, riwayat transaksi otomatis tercatat sehingga memudahkan dalam memantau belanja harian. Adapun Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya terus menggenjot program digitalisasi pasar tradisional di Jakarta, dengan target mencapai sekitar 110 pasar rampung tahun ini "Kita sudah selesaikan berarti sudah 60 pasar digitalisasi pasar, kita tambah lagi Insyaallah sampai dengan 50 pasar tahun ini. Berarti 110-an selesai tahun ini," kata Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan.
Agus menyebut, hingga tahap ketiga pelaksanaan, sebanyak 60 pasar telah berhasil terdigitalisasi dari total sekitar 153 pasar yang berada di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya. Agus menyebut, pada tahun 2026 ini pihaknya menargetkan tambahan sekitar 50 pasar untuk masuk dalam program digitalisasi. Dengan demikian, total pasar yang terdigitalisasi ditargetkan mencapai sekitar 110 pasar atau mayoritas dari keseluruhan pasar yang dikelola Pasar Jaya.
Program digitalisasi ini merupakan bagian dari transformasi besar yang didorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah perkembangan ekonomi digital.