Latest Program: Chery hingga Geely beralih ke HEV pada 2026, tantang dominasi Toyota

Jakarta – Kendaraan listrik hibrida (hybrid electric vehicles/HEV) kembali menjadi fokus strategis produsen mobil Tiongkok pada 2026, utamanya perusahaan seperti Changan, Geely, dan Chery, yang mengumumkan sistem dan produk baru. Laman Carnewschina, Rabu (8/4) waktu setempat melaporkan, Dorongan ini muncul saat Toyota masih mendominasi penjualan mobil hibrida global, sementara BYD terus memperluas pasar dengan mobil plug-in hybrid (PHEV) dan listrik murni. Sistem hibrida Toyota (THS) masih menggunakan mekanisme power-split berbasis roda planetary gear (gigi planet) yang menghubungkan mesin dan roda secara mekanis.

Hal ini membuat mesin bekerja pada rentang efisien, dengan motor listrik membantu saat diperlukan. Pendekatan ini mengutamakan efisiensi bahan bakar dan kenyamanan, tetapi membatasi tenaga maksimum dari penggerak listrik karena adanya keterhubungan mekanis yang terus-menerus. Sebaliknya, produsen mobil Tiongkok menggunakan arsitektur berbeda.

Sistem HEV mereka umumnya memakai konfigurasi seri-paralel dengan transmisi hibrida khusus multi-gigi (dedicated hybrid transmission/DHT). Dalam sistem ini, penggerak listrik lebih dominan, sementara mesin bekerja dalam kondisi efisien atau sebagai generator. Sebagai contoh, sistem Blue Core HEV milik Changan menggunakan dua motor dengan beberapa mode operasi, termasuk mode listrik murni pada kecepatan rendah, akselerasi dengan bantuan mesin, dan penggerak langsung mesin pada kecepatan tinggi.

Dibanding sistem Toyota, HEV Tiongkok biasanya memakai motor listrik lebih besar, sekitar 130–180 kW, sehingga akselerasinya lebih kuat. Konsumsi bahan bakar di perkotaan diklaim bisa mencapai sekitar 2–3 liter per 100 km dalam kondisi tertentu. Salah satu alasan utama peralihan ke HEV adalah struktur biaya.

HEV biasanya menggunakan baterai berkapasitas 1–2 kWh, jauh lebih kecil dibanding plug-in hybrid (10–20 kWh) atau mobil listrik murni (50 kWh atau lebih). Hal ini mengurangi ketergantungan pada biaya material baterai, yang masih relatif tinggi meski harga lithium berfluktuasi. Di tengah harga kendaraan yang terus turun di pasar Tiongkok yang sangat kompetitif, baterai kecil menjadi cara untuk menjaga margin keuntungan.

Merek-merek Tiongkok memposisikan HEV sebagai pelengkap, bukan pengganti mobil listrik murni (BEV) atau plug-in hybrid (PHEV). Secara global, kinerja Toyota menunjukkan bahwa mobil hibrida masih relevan. Perusahaan ini menjual 11,3 juta kendaraan pada 2025, dengan sekitar 42 persen atau sekitar 4,4 juta unit merupakan mobil hibrida.

Di sisi lain, strategi BYD menunjukkan arah berbeda. Perusahaan ini mengirimkan 4,6 juta kendaraan pada 2025, hampir seimbang antara plug-in hybrid dan mobil listrik murni. Ini menunjukkan pendekatan yang lebih fokus pada elektrifikasi, namun tetap bergantung pada teknologi hibrida.

Sejumlah produsen mobil Tiongkok tengah menyiapkan peluncuran HEV. Geely mengumumkan sistem i-HEV dengan target konsumsi bahan bakar sekitar 3 liter per 100 km. Chery bereksperimen dengan HEV berbaterai lebih besar, sekitar 5 kWh, yang mulai mengaburkan batas antara HEV konvensional dan plug-in hybrid.

Changan juga mulai mempromosikan uji coba kendaraan HEV terbarunya, menandakan peluncuran komersial dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *