Meeting Results: Material bangunan berpengaruh langsung kepada kesehatan penghuni
Jakarta – Pemilihan material bangunan dinilai berpengaruh langsung terhadap kesehatan penghuni, terutama anak-anak yang sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam rumah sehingga lebih rentan terhadap paparan zat kimia berbahaya seperti timbal yang terkandung dalam cat maupun material konstruksi lainnya. "Anak-anak kan banyak menghabiskan waktu di rumah, jadi kita harus memastikan bahwa bahan-bahan material yang digunakan di rumah ini bebas dari timbal dan zat-zat berbahaya lainnya," kata dokter spesialis anak dr. Reza Fahlevi, Sp.A, dalam diskusi bertajuk "Membangun Ruang yang Lebih Sehat Melalui Pemilihan Material Bangunan yang Aman" di Jakarta, Rabu.
Reza menjelaskan timbal dapat masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan, pencernaan, maupun kulit. Pada anak-anak, akumulasi timbal di sistem saraf berisiko menurunkan IQ serta mengganggu konsentrasi belajar. Sementara paparan kronis pada ginjal dapat berujung pada penyakit ginjal kronis sejak usia dini.
"Satu dari tujuh anak Indonesia terpapar timbal dengan kadar tinggi. Ini masih merupakan fenomena gunung es karena pengawasan yang masih kurang," ujar Reza. Ia juga mengingatkan timbal dapat menembus lapisan plasenta sehingga ibu hamil yang terpapar berpotensi mentransfer zat berbahaya tersebut kepada janin sebelum bayi lahir.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc., mengatakan timbal sama sekali tidak dibutuhkan tubuh, namun, jika sudah masuk akan sulit dikeluarkan dan dapat mengganggu fungsi otak, ginjal, hati, serta sistem reproduksi.
Selain timbal pada cat, dia juga menyoroti bahaya asbes yang hingga kini masih ditemukan pada bangunan-bangunan lama. Debu asbes yang terhirup tidak dapat dikeluarkan tubuh dan akan menetap di dalam jaringan sebagai benda asing, yang berpotensi memicu penyakit kronis dalam jangka panjang. Yuni menyarankan masyarakat beralih ke cat berbasis air yang dinilai lebih aman karena kadar senyawa organiknya rendah serta tidak berbau menyengat sehingga lebih aman digunakan di dalam ruangan.
Dalam kesempatan yang sama, arsitek dan perancang urban KIND Architects Adjie Pangestu mengingatkan bahwa data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 90 persen waktu manusia dihabiskan di dalam ruangan. Dari porsi tersebut, sekitar 30 persen waktu dihabiskan di kamar tidur dan 30 persen lainnya di kantor. "Rumah tinggal itu adalah investasi terbesar kita selama hidup.
Memilih material rumah itu harus lebih waspada dibanding kita memilih mobil karena seumur hidup kita akan hidup di sana," kata Adjie. Masyarakat disarankan memeriksa label kemasan, memilih produk berlabel bebas timbal, serta memastikan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan sebagai langkah dasar pencegahan paparan polutan dalam ruangan.