Main Agenda: Bank Dunia nilai dampak tarif AS terhadap ekspor RI relatif kecil

Bank Dunia nilai dampak tarif AS terhadap ekspor RI relatif kecil

Dari Jakarta – Laporan terbaru Bank Dunia menyatakan bahwa kebijakan tarif AS memiliki pengaruh yang tidak terlalu signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia. Menurut Aaditya Mattoo, kepala ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, angka tarif yang diterapkan pada negara ini masih berada di bawah 20 persen, mirip dengan Vietnam, meski sedikit lebih tinggi dibanding Malaysia dan Thailand.

Analisis ekonomi dan strategi reformasi

Dalam wawancara daring dengan ANTARA, Mattoo menambahkan bahwa model perhitungan menunjukkan tarif AS hanya menyebabkan penurunan pendapatan riil Indonesia sebesar 0,2 persen. Dampak ini dianggap tidak cukup besar untuk mengganggu pertumbuhan PDB secara keseluruhan.

“Ketika dihitung melalui model, dampak tarif AS terhadap pendapatan riil Indonesia hanya sekitar 0,2 persen, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif signifikan terhadap PDB,” ujarnya.

Mattoo menekankan bahwa dengan melakukan reformasi kebijakan dalam negeri, seperti penghapusan hambatan non-tarif, manfaatnya akan jauh lebih besar daripada kerugian akibat tarif AS. Ia menyebut kebijakan tersebut bisa menjadi “small change” jika reformasi domestik diterapkan secara efektif.

Perjanjian perdagangan dan data ekspor-impor

Pada 19 Februari, Indonesia dan AS mencapai kesepakatan perdagangan resiprokal setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump di Washington, DC. Kesepakatan ini berupa Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang resmi ditandatangani oleh kedua pemimpin.

Secara umum, AS memberlakukan rata-rata tarif sebesar 19 persen pada produk Indonesia. Namun, beberapa barang diberi pengecualian dengan tarif 0 persen. Sebagai balasan, Indonesia menghapus tarif atas 99 persen produk AS. Laporan Bank Dunia menyebutkan tarif resiprokal ini digantikan oleh tarif global sebesar 10 persen berdasarkan Section 122 Trade Act of 1974, berlaku sementara hingga Juli 2026.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia Januari–Desember 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS, naik 6,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas tercatat sebesar 269,84 miliar dolar AS, meningkat 7,66 persen. AS menjadi tujuan ekspor kedua terbesar dengan nilai 30,96 miliar dolar AS, setelah China yang mencapai 64,82 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada periode yang sama mencapai 241,86 miliar dolar AS, naik 2,83 persen. Impor nonmigas meningkat 5,11 persen menjadi 209,09 miliar dolar AS. AS berada di posisi ketiga sebagai sumber impor utama, menyumbang 9,84 miliar dolar AS atau 4,70 persen dari total impor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *