Key Discussion: Mentan Sebut Pertanian RI Ibarat Tarung Mike Tyson Vs Ellyas Pical

Mentan Sebut Pertanian RI Ibarat Tarung Mike Tyson Vs Ellyas Pical

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026), Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan kekhawatiran terkait ketidakseimbangan perdagangan komoditas pangan di Indonesia. Ia menyoroti ketergantungan yang tinggi pada impor, yang membuat produk lokal kesulitan bersaing.

Amran menggunakan analogi yang mencolok untuk menjelaskan situasi ini. Ia menggambarkan pertarungan antara produk impor dan komoditas dalam negeri seperti pertandingan antara Mike Tyson dan Ellyas Pical tanpa wasit. “Menurutnya, skenario ini mirip pertandingan yang tidak adil antara petani lokal dan produk impor, seperti pertarungan antara Mike Tyson dan Ellyas Pical tanpa wasit yang mengawasi,” ujarnya.

“Nah ini harus kita kendalikan (dengan lartas), karena kita terima sarannya IMF (International Monetary Fund) pasar bebas, nggak ada Lartas,” kata Amran.

Mike Tyson dan Ellyas Pical adalah dua legenda tinju yang dikenal karena dominasi mereka di tingkat profesional. Analogi ini sering digunakan untuk menggambarkan perbedaan kekuatan dan ketimpangan dalam pertarungan. Amran menegaskan bahwa kebijakan pasar bebas yang diterima mentah-mentah dari IMF telah menciptakan ketimpangan.

Tanpa intervensi pemerintah, mekanisme pasar bebas membuat produk impor lebih unggul dari segi harga dan skala produksi. Hal ini menyebabkan komoditas lokal semakin terdesak. Amran menyebutkan, fenomena ini tidak hanya terjadi pada gula, tetapi juga pada komoditas strategis lainnya seperti susu dan kedelai.

“Kita perjuangkan lartas karena ini terjadi bukan (di komoditas) gula saja. Itu terjadi di susu, kemudian terjadi di kedelai,” tambahnya.

Menurut Amran, ketergantungan pada impor yang tinggi adalah akumulasi dari kebijakan lalu yang terlalu terbuka terhadap pasar global. “Kami ini pandangan saja, Bu (pimpinan Komisi VI DPR RI), bahwa ini adalah (ulah atau karena) saran dari IMF kita terima mentah-mentah, ya berantakanlah ini pertanian,” jelasnya.

Data menunjukkan bahwa tren ketergantungan impor terus meningkat. Contohnya, impor susu yang dulu hanya 40% kini mencapai 81%, sementara kedelai yang pernah swasembada pada tahun 1992-1993 kini 90% bergantung pada impor. Amran menilai pola ini konsisten di berbagai komoditas, disebabkan oleh kebijakan pasar bebas tanpa perlindungan yang memadai.

Sebagai respons, pemerintah kini mendorong penerapan Lartas sebagai cara untuk menyeimbangkan pasar dan meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *