Key Issue: 80.000 Jadi Pengangguran di 2026, Gelombang PHK Sudah Parah

80.000 Jadi Pengangguran di 2026, Gelombang PHK Sudah Parah

Kebijakan PHK Terus Meningkat di Sektor Teknologi

Pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap berlangsung dan menunjukkan peningkatan tren. Dalam tiga bulan awal tahun 2026, hampir 80.000 posisi pekerjaan terdampak. Menurut data dari RationalFX, total karyawan yang dipecat di sektor teknologi global mencapai 78.557 sejak Januari hingga April 2026. Amerika Serikat menjadi negara dengan kontribusi terbesar, menyumbang 76,7% dari jumlah total PHK tersebut.

Analisis Perkembangan PHK Global

Data penghitungan berasal dari pengumuman resmi perusahaan, pemberitahuan departemen tenaga kerja, serta situs tracking pekerjaan teknologi. Hampir separuh dari PHK global, yaitu 37.638 karyawan, dikaitkan dengan implementasi AI dan otomasi alur kerja, menurut analisis RationalFX.

Kommentar dari Babak Hodjat

Babak Hodjat, Chief AI di Cognizant, perusahaan penyedia layanan IT terbesar dunia, menyatakan bahwa dampak AI terhadap bursa kerja mungkin membutuhkan waktu hingga satu tahun ke depan agar benar-benar terlihat jelas. “Saat ini, jumlah PHK di sektor teknologi global masih belum mencerminkan dampak AI secara utuh,” katanya.

“Saya tidak tahu apakah PHK pada kuartal pertama ini langsung terkait dengan peningkatan produktivitas yang sebenarnya,” ungkap Hodjat. Menurutnya, penurunan karyawan bisa dipengaruhi ekspektasi bahwa AI akan meningkatkan efisiensi, bukan karena hasil peningkatan yang nyata.

Menurut Hodjat, AI sering dianggap sebagai kambing hitam dalam konteks keuangan. “Seringkali, AI menjadi korban kesalahan, seperti ketika perusahaan mempekerjakan terlalu banyak karyawan atau ingin mengurangi ukuran tim, dan itu disalahkan pada teknologi,” tambahnya. Meski begitu, ia mengakui bahwa AI tetap memengaruhi PHK, meski efeknya akan terasa lebih jelas dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun.

Dalam urutan jumlah PHK, AS memimpin dengan 59.510 karyawan yang terkena. Diikuti oleh Australia (4.450), Austria (2.000), Swedia (1.938), Belanda (1.700), India (1.620), Israel (1.539), Singapura (1.196), Inggris (1.050), dan Spanyol (750), dikutip dari Nikkei Asia, Rabu (8/4/2026).

Hodjat menegaskan bahwa masa transisi penggunaan AI di alur kerja akan membawa tantangan yang lebih besar bagi perusahaan. “Saya rasa ini akan menyakitkan bagi kita semua ketika melewatinya,” ujarnya. Cognizant sendiri, menurutnya, masih dalam proses adaptasi dan integrasi teknologi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *