New Policy: Purbaya: AS-Iran Damai Rupiah Menguat, IHSG Naik Hampir 3%
Purbaya: AS-Iran Damai Rupiah Menguat, IHSG Naik Hampir 3%
Dalam wawancara terbaru, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi penguatan nilai tukar Rupiah pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Ia menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran menjadi penentu utama tren positif ini.
“Hehe, kok kalian jadi takut? Ketidakpastian global berkurang, itu berdamai, otomatis Rupiah menguat. Dan IHSG hampir 3% tadi. Kalau global, kan bagus kondisinya, jadi kalau sentimennya hilang ya sudah kelihatan lagi fondasi dasar,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda mencatatkan penguatan 0,50% ke Rp17.005/US$ pada hari tersebut. Ini mematahkan tren pelemahan rupiah yang berlangsung tiga hari berturut-turut. Nilai tukar rupiah sempat dibuka lebih kuat di Rp16.970/US$ sebelum sedikit tertahan di akhir sesi.
Kondisi Pasar Saat Ini
Indeks dolar AS (DXY) turun tajam 1,06% ke 98,800 di pukul 15.00 WIB. Pelemahan DXY memungkinkan rupiah kembali naik, seiring hilangnya tekanan terhadap aset safe haven. Tren ini juga didorong oleh kebijakan eksternal, terutama melemahnya dolar AS setelah pengumuman gencatan senjata antara AS dan Iran.
Menurut laporan, Presiden AS Donald Trump menyatakan telah mencapai kesepakatan selama dua pekan dengan Iran. Hal ini memicu optimisme pasar dan mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset pelindung. Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat serangan terhadap infrastruktur sipil dihentikan.
Tindakan Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) menegaskan prioritasnya adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa lembaga sentral akan memanfaatkan seluruh instrumen operasi moneter untuk mengamankan nilai tukar.
“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas menjadi prioritas utama BI. Untuk itu, kita akan mengoptimalkan penggunaan instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan kebijakan OM untuk menjaga kestabilan nilai tukar,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Destry menambahkan, BI secara konsisten melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat fondasi ekonomi dalam kondisi pasar yang dinamis.