Latest Program: Dari Selat Hormuz, Iran-China Goyang Dominasi Dolar di Pasar Global
Dari Selat Hormuz, Iran-China Goyang Dominasi Dolar di Pasar Global
Transaksi energi menggunakan yuan semakin mendapat perhatian karena peran Iran dan Tiongkok yang meningkat di wilayah strategis Selat Hormuz. Langkah ini dianggap sebagai tanda awal upaya mengurangi pengaruh dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional. Saat konflik mengguncang pasar energi, keduanya memanfaatkan peluang untuk mendorong penggunaan mata uang Tiongkok, khususnya dalam penjualan minyak.
Selat Hormuz, jalur penting yang melalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, menjadi titik perubahan utama. Beberapa laporan menyebutkan kapal niaga mulai dikenai tarif transit dalam yuan saat melintasi zona tersebut. Praktik ini berupaya memperkuat penggunaan yuan di sektor energi, yang sebelumnya diuasai dolar.
“Iran memilih yuan untuk menghindari sanksi AS dan mempererat hubungan dengan Tiongkok,” kata ekonom Harvard dan mantan kepala ekonom IMF Kenneth Rogoff, dilansir Aljazeera.
Penggunaan yuan dalam perdagangan energi dinilai menguntungkan bagi Tiongkok karena meminimalkan ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar. Selain itu, hal ini juga memperkuat kolaborasi ekonomi yang sudah terjalin melalui kemitraan jangka panjang.
Sejauh ini, dolar masih mendominasi pasar minyak global dengan hampir 80 persen transaksi menggunakan mata uang tersebut. Namun, peningkatan penggunaan yuan—meski cenderung perlahan—mulai menghadirkan opsi lain dalam keuangan internasional. Ekonom Natixis Asia Pasifik Alicia Garcia-Herrero menilai pergeseran ini belum bisa menggantikan posisi dolar segera.
“Penggunaan yuan saat ini masih bertahap, bukan tanda de-dolarisasi langsung, tapi secara perlahan memberi tekanan pada sistem keuangan global,” ujar Garcia-Herrero.
Data menunjukkan yuan baru digunakan dalam sekitar 3,7 persen transaksi lintas negara pada 2024, jauh lebih rendah dari dolar yang tetap menjadi dominasi cadangan devisa global dengan porsi sekitar 57 persen. Meski demikian, tren ini berpotensi terus tumbuh, terutama di negara-negara ingin memperkuat independensi dari dolar AS.
Analisis menunjukkan pergeseran ini akan berlangsung bertahap, bukan perubahan mendadak dalam waktu dekat. Namun, langkah kecil seperti di Selat Hormuz bisa menjadi awal perubahan dalam struktur keuangan global secara keseluruhan.