Key Discussion: Harga Emas Melonjak: Rekor Tertinggi 3 Minggu, Tapi Jangan Senang Dulu

Harga Emas Meningkat, Menembus Rekor Tiga Minggu, Namun Risiko Masih Ada

Jakarta, harga emas kembali menguat dan menyentuh titik tertinggi dalam tiga minggu terakhir, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pergerakan ini tidak sepenuhnya pasti, karena harga emas sedikit menurun pada pagi hari ini. Pada perdagangan Rabu (8/4/2026), harga emas ditutup di US$4716,12 per troy ons, naik 0,29%, sementara pada Kamis (9/4/2026) pukul 06.41 WIB, nilai logam berharga tersebut berada di US$4706,27, turun 0,2%.

Kenaikan harga emas juga didukung oleh penurunan harga minyak setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan gencatan senjata dua minggu. Kesepakatan ini berdampak positif pada suasana pasar, mengurangi tekanan inflasi, dan membuka kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Edward Meir, analis dari Marex, mengatakan kepada Reuters bahwa “gencatan senjata ini menenangkan pasar dan mengurangi tekanan… kondisi ini bisa dengan mudah berbalik, dan pemulihan pasar bisa saja hanya bersifat jangka pendek.”

“Situasinya masih sangat rapuh. Banyak hal yang masih harus dinegosiasikan. Kita belum sepenuhnya keluar dari risiko,” tambah Edward Meir.

Sepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, yang dimediasi Pakistan, memang mengurangi ketegangan, tetapi Israel tetap melanjutkan operasi militer terhadap Lebanon. Penurunan harga minyak di bawah US$100 per barel muncul setelah berita gencatan senjata tersebar.

Sementara itu, dolar AS terus melemah terhadap sekeranjang mata uang utama, sehingga emas yang diukur dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor asing. Indeks dolar anjlok ke 99,13 pada Rabu (8/4/2026), turun dari 99,8 hari sebelumnya. Namun, harga emas spot sendiri telah mengalami penurunan sekitar 10% sejak dimulainya konflik AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026.

Lonjakan harga energi memperparah kekhawatiran inflasi, sehingga investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Suku bunga yang tinggi cenderung menghambat permintaan emas, meskipun logam mulia ini tetap dianggap sebagai perlindungan terhadap inflasi.

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret menunjukkan bahwa pejabat terkait mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang masih di atas target 2%. Indikator inflasi AS, termasuk PCE dan CPI, akan dirilis akhir pekan ini. Jika data menunjukkan kenaikan inflasi, suku bunga bisa kembali naik, yang berpotensi menekan harga emas.

Di sisi lain, harga perak juga mengalami penguatan, mencapai US$74,12 per troy ons pada Rabu (8/4/2026) dengan kenaikan 1,63%. Namun, nilai logam ini menurun pada Kamis (9/4/2026) pukul 06.45 WIB ke US$73,5 per troy ons, melemah 0,8%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *