BMKG: Gempa di Malut 1.378 kali dan baru akan meluruh 2-3 pekan

BMKG: 1.378 Gempa Susulan di Malut Terjadi, Aktivitas Diperkirakan Menurun dalam 2-3 Minggu

Dari Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah gempa susulan mencapai 1.378 kali setelah gempa utama berkekuatan 7,6 di Maluku Utara. Menurut Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, aktivitas seismik diperkirakan akan berkurang secara bertahap selama dua hingga tiga minggu setelah kejadian 2 April 2026.

“Meskipun ada penurunan tren, intensitas gempa selama periode peluruhan masih bisa bervariasi. Getaran yang dirasakan mungkin terus muncul secara sporadis hingga kondisi stabil,” jelas Nelly.

Berdasarkan data harian, jumlah gempa susulan menurun secara konsisten. Gempa tercatat 394 kali pada hari pertama setelah kejadian, lalu berkurang menjadi 91 kejadian pada hari keenam dan 63 kejadian pada hari ketujuh. BMKG menilai proses ini bagian dari pelepasan energi pascagempa utama, yang secara statistik diproyeksikan akan mereda dalam beberapa minggu ke depan.

Tim survei gabungan BMKG, terdiri dari unsur pusat, Balai Besar MKG Wilayah IV, serta Unit Pelaksana Teknis di Maluku Utara dan Sulawesi Utara, terus melakukan validasi dampak di lapangan. Hasil survei makroseismik menunjukkan guncangan terkuat mencapai skala VII MMI di Kecamatan Pulau Batang Dua, sesuai dengan prediksi BMKG sebelumnya.

Dalam pemeriksaan tambahan, petugas memverifikasi adanya jejak tsunami setinggi 0,5 hingga 1,5 meter di wilayah Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara. Jejak ini sejalan dengan peringatan dini tsunami pada level siaga yang dikeluarkan BMKG saat kejadian.

Untuk memastikan keselamatan masyarakat, BMKG juga melakukan pengukuran mikrozonasi guna memetakan risiko likuefaksi dan longsor. Selain itu, tim memperkuat sosialisasi mitigasi bencana kepada warga guna menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat.

Gempa utama terjadi di wilayah barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, dan dirasakan di Ternate, Manado, serta Gorontalo dengan intensitas berbeda. BMKG mencatat gelombang tsunami terdeteksi di Halmahera Barat (0,30 meter), Bitung (0,20 meter), dan Minahasa Utara (0,75 meter).

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian ini menyebabkan satu korban meninggal di Manado, satu orang luka ringan, dan 16 keluarga terdampak di Kabupaten Minahasa. Kerusakan pada infrastruktur juga terjadi di Kota Manado, Kabupaten Minahasa, serta Kota Ternate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *