New Policy: Harga CPO Ambruk! Pengusaha Indonesia Gak Jadi Pesta
Harga CPO Terjungkal, Momentum Pengusaha Indonesia Berubah
Di tengah perubahan dinamika pasar, harga Crude Palm Oil (CPO) mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 3% pada perdagangan Rabu (08/4/2026), mencapai level terendah dalam dua minggu terakhir. Penurunan ini dipicu oleh pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa malam (07/4/2026) waktu AS atau Rabu (08/4/2026) di Indonesia. Dengan referensi acuan FCPOc3, harga CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup pada MYR 4.586 per ton, turun sebesar MYR 179 atau -3,76%, mengakhiri tren positif sejak 26 Maret 2026.
Faktor Penurunan Harga
Menurut Refinitiv, harga minyak mentah dunia terjatuh di bawah US$ 100 per barel setelah Presiden AS, Donald Trump, menyetujui kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, dengan syarat Selat Hormuz segera dibuka. Kondisi ini membuat CPO, sebagai bahan baku biodiesel, kurang diminati. “Harga minyak sawit diprediksi akan menemukan level penopang di kisaran 4.500 ringgit,” kata Sandeep Singh, direktur The Farm Trade di Kuala Lumpur. Ia menyoroti pengaruh mandatori biodiesel B20 di Malaysia dan penurunan persediaan minyak mentah.
“Kenaikan nilai tukar ringgit sebesar 1,34% terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan biaya CPO bagi pembeli asing, meski momentum B20 memberi tekanan penopang,” tambah Singh.
Pemerintah Malaysia sedang menyusun strategi pemanfaatan B20 secara bertahap, sambil memantau sensitivitas harga sawit terhadap perubahan harga minyak bumi. Di sisi lain, volatilitas harga CPO juga dipengaruhi oleh pergerakan minyak nabati kompetitor di pasar global. Sementara itu, Indonesia melanjutkan kebijakan energi dengan menerbitkan jadwal penerapan campuran biofuel, sebagai bagian dari upaya mencapai kemandirian energi nasional.
Setelah mengalami penurunan signifikan pada perdagangan sebelumnya, harga CPO mulai membaik pada Kamis (09/4/2026) pukul 09.10 WIB, naik 0,50% ke MYR 4.609 per ton. Kenaikan ini dianggap sebagai respons pemulihan setelah tekanan pasar yang kuat. Namun, masa depan harga masih bergantung pada interaksi antara kebijakan global dan dinamika nilai tukar mata uang.