Special Plan: Breaking News! Dolar AS Kembali Naik ke Rp17.015
Jakarta, Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (9/4/2026), setelah sehari sebelumnya sempat menguat tajam. Merujuk data Refinitiv, rupiah memulai perdagangan pagi ini di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,06% ke posisi Rp17.015/US$. Padahal, pada perdagangan Rabu (8/4/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,50% di level Rp17.005/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat bergerak stabil di level 99,133, setelah pada perdagangan sebelumnya anjlok 0,73% dan menyentuh level terendah dalam sebulan. Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih diperkirakan akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, khususnya arah pergerakan dolar AS di pasar global. Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai belum sepenuhnya solid.
Kondisi tersebut membuat pergerakan dolar AS masih berpotensi fluktuatif, seiring tingginya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan harga energi. Situasi ini pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan mata uang lainnya, termasuk rupiah. Sementara itu dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) turut menjelaskan penyebab penurunan cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026.
Posisi cadangan devisa tercatat turun menjadi US$148,2 miliar, dari sebelumnya US$151,9 miliar pada Februari 2026. BI menyebut penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh penggunaan devisa untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. "Kebijakan stabilisasi tersebut sebagai respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," tulis BI dalam siaran pers, Rabu (8/4/2026).
Meski demikian, BI menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman untuk menopang ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.