Special Plan: AS-Iran Deal Tanpa Israel, 5 Misi Besar Netanyahu Ini Belum Tercapai
AS-Iran Deal Tanpa Israel, 5 Misi Besar Netanyahu Ini Belum Tercapai
Kesepakatan Gencatan Senjata dan Ketegangan yang Memanas
Jakarta, Tegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik baru setelah Presiden AS Donald Trump dan Iran sepakat menghentikan konflik selama dua minggu pada 7 April 2026. Namun, keputusan ini justru memperumit posisi Binyamin Netanyahu, yang kini terjebak antara hubungan diplomatik dengan sekutu dan risiko menjadi sasaran kritik. Dalam satu jam setelah pengumuman gencatan senjata, sirene peringatan terus berbunyi di kota-kota Israel, sementara rudal Iran tetap mengancam. Meski AS dan Iran sepakat untuk meredam konflik, Israel belum mampu menghilangkan ancaman udara yang terus mengintai.
Perspektif Netanyahu: Keuntungan dan Kendala
Sebelum konflik dimulai, Israel menargetkan pelemahan signifikan militer Iran hingga memicu perubahan rezim. Namun, setelah serangan udara intensif selama 40 hari, mayoritas target strategis belum berhasil dicapai. Meski demikian, dari sisi taktis, Israel sukses menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan udara dan laut Iran, serta merusak sistem pertahanan udaranya. Industri persenjataan Iran juga terkena dampak berat. Di dalam negeri, sistem rudal Israel mampu menangkap sekitar 600 rudal yang ditembakkan Iran, dengan korban jiwa sekitar 20 orang, angka yang jauh lebih rendah dari estimasi awal.
Peran Pakistan dan Keterlibatan AS
Kesepakatan gencatan senjata dilakukan melalui mediasi Pakistan, yang memperlihatkan dominasi Washington dalam mengarahkan perundingan. Israel, meski menyadari pembicaraan antara AS dan Iran, tidak terlibat sebagai pihak utama. Bahkan sebelum pengumuman resmi Trump, angkatan udara Israel sedang bersiap menyerang fasilitas energi Iran. Rencana tersebut dibatalkan, menegaskan bahwa keputusan terakhir berada di tangan Trump. Dari sudut Netanyahu, hal ini memberi keuntungan strategis: kolaborasi dengan AS dalam menentukan target dan operasi militer.
Reaksi Israel: Dukungan dengan Syarat
Binyamin Netanyahu menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata AS-Iran, tetapi menekankan bahwa langkah ini hanya bersifat sementara.
“Kesepakatan ini tidak mengubah fakta bahwa Israel tetap menjadi sekutu strategis AS,” ujarnya.
Namun, gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, tempat Israel masih berperang melawan Hizbullah yang didukung Iran. Meski situasi berdamai di kawasan lain, Israel tetap meluncurkan serangan terhadap puluhan target Hizbullah, memicu peringatan dari Iran bahwa konflik bisa kembali memanas.
Konsekuensi Politik: Netanyahu dan Pemilu Oktober
Di tengah kebocoran informasi bahwa sejumlah pejabat Washington awalnya ragu terhadap rencana perang Netanyahu, presiden AS dihadapkan pada pilihan penting. Ketegangan ini berpotensi memengaruhi hubungan dengan Israel, terutama saat mendekati pemilu Oktober. Netanyahu, sebagai tokoh utama, berusaha mempertahankan ikatan politik dengan Trump sebagai modal untuk kembali menduduki jabatan. Ia harus membuktikan bahwa Israel masih menjadi sekutu utama AS, sekaligus menyelesaikan misi perang di Iran dan Lebanon.